Inspiration

PRINSIP INOVASI #1 Personally Co-created Experiences

(This article has been published in Kriya Magazine, Edition 13/2008)

Avanti Fontana*

Inovasi adalah pengenalan cara baru dalam mengubah input menjadi output sehingga menghasilkan perubahan besar dalam perbandingan antara nilai guna yang dipersepsikan oleh konsumen atas manfaat produk (barang atau jasa) dan harga (nilai moneter) yang ditetapkan produsen untuk dikenakan kepada konsumen dan/atau pengguna. Setiap usaha bisnis atau usaha pelayanan publik hendaknya berinovasi untuk menciptakan nilai guna yang lebih tinggi atas produk yang dihasilkannya bagi konsumen atau pengguna atau pasar yang ditargetkan. Inovasi ini harus melihat dari kacamata konsumen (bukan dari kacamata produsen semata).

Kita sudah mengenal banyak bentuk inovasi seperti inovasi produk yang dapat mencakup perubahan dalam bungkus produk, ukuran produk atau model produk termasuk warna produk, inovasi proses dalam bentuk proses produksi menjadi lebih efisien, inovasi sistem distribusi seperti membuat saluran distribusi lebih sederhana, dan inovasi manajemen seperti membuat organisasi lebih fleksibel. Penting diperhatikan: apapun jenis inovasi yang kita lakukan, pada akhirnya konsumenlah yang menentukan keputusan membeli atau tidak membeli produk yang ditawarkan kepadanya. Karenanya, menjadi penting untuk memperhatikan prinsip inovasi #1 yaitu bahwa konsumen menjadi pusat dari proses penciptaan nilai dalam inovasi.

Pembuatan atau penciptaan produk baru harus mempertimbangkan masukan dari konsumen; karenanya, konsumen harus dilibatkan dari awal proses inovasi atau penciptaan nilai. Aspek personal atau pengalaman personal konsumen dalam inovasi menjadi penting. Hal ini berlaku pula untuk produk-produk kerajinan dan seni. Bagaimana menciptakan produk-produk kerajinan dan seni yang diminati oleh konsumen, tentunya dengan tetap mempertahankan kreativitas dan idealisme atau cita-cita luhur pencipta produk itu sendiri. Prinsip inovasi #1 mempunyai pengaruh pada bagaimana proses penciptaan nilai dilakukan yaitu prosesnya harus bersifat ko-kreatif (value cocreation), antara produsen dan konsumen atau calon konsumen.

Mengapa demikian? Karena pada akhirnya, perilaku membeli konsumen dipengaruhi oleh pengalaman yang dialami oleh konsumen baik dalam proses penciptaan nilai itu sendiri maupun dalam mengkonsumsi, menggunakan atau menikmati produk yang dibelinya.

Di sini kita melihat bahwa inti proses penciptaan nilai dalam inovasi bergeser dari produk ke jasa/layanan dan kemudian ke pengalaman. Pengalaman personal konsumen menjadi fokus proses penciptaan nilai. Karenanya, konsumen harus diikutsertakan dari sejak awal proses inovasi. Bagaimana caranya? Banyak cara. Contoh sederhana: untuk produk kreatif seperti kain batik misalnya: para produsen dapat mengadakan pameran batik dan melihat animo masyarakat yang hadir, produsen meminta pendapat pengunjung, dan produsen menyediakan sistem pemesanan produk batik atau kain batik sesuai dengan pesanan setiap konsumen, mulai dari motif batik, bahan batik, warna dan ukuran. Bagi konsumen yang belum begitu yakin dengan apa yang diinginkannya, produsen dapat membantu dengan pertanyaan dan informasi berkaitan dengan selera konsumen atau pengalaman apa yang ingin konsumen ciptakan dengan memakai batik atau dengan memesan batik tersebut sebagai kado bagi rekan kerja, dll.

Produsen batik menargetkan pembeli kain batiknya adalah para profesional muda baik pria maupun wanita di Indonesia dengan iklim tropik. Menurut sang produsen, bahan utamanya sebaiknya katun dengan motif simpel. Bilamana kita berpedoman pada prinsip inovasi #1, maka sang produsen hendaknya mengundang calon-calon konsumennya dalam bentuk seminar atau diskusi kelompok fokus sesuai dengan target pasar yang direncanakan, dan mengundang masukan konsumen berkaitan dengan mengapa konsumen menyukai pakaian batik untuk bekerja atau bersantai, jenis motif batik, jenis bahan batik (katun atau perlu kombinasi denan sutra), warna batik, apakah dalam bentuk kain atau langsung dalam bentuk siapa pakai (pret a porter), berapa harga yang sanggup dibayar calon konsumen dengan kualitas produk yang baik, di mana diperjualbelikan (di butik atau di department store atau tempat lain), apakah calon konsumen siap membantu mempromosikan dengan sistem imbaljasa yang jelas. Bilamana perlu, dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, produsen membuat situs khusus apakah dalam bentuk blog atau forum komunikasi antara konsumen profesional dan produsen batik. Dari masukan para konsumen atau calon konsumen, produsen kemudian memprosesnya dalam projek pengembangan produk dan membuat contoh-contoh produk. Sebelum diproduksi dalam jumlah banyak, produsen dapat menngundang kembali konsumen atau calon konsumen untuk memperoleh informasi dan masukan tentang produk hasil ciptaannya. Dan seterusnya. Produk-produk batik dengan lekatan input dan informasi dari konsumen kemudian masuk di pasar dalam situasi dan kondisi yang berbeda daripada masa-masa sebelumnya di mana konsumen tidak dilibatkan dalam proses pencarian ide produk, pengembangan produk dan penyebaran produk itu sendiri. Konsumen memiliki pengalaman yang unik. Konsumen melihat bahwa ia pun ikut dalam proses penciptaan nilai dari produk-produk yang dipakainya. Sudah sampai tahap inikah inovasi di usaha-usaha bisnis kita?

Proses Penciptaan Nilai Bersama (Value Cocreation)
Seperti sudah disebutkan di atas, fokus proses penciptaan nilai adalah konsumen/pengguna. Karenanya, produsen harus mengikutsertakan konsumen dalam proses penciptaan nilai ini. Ini inti dari prinsip inovasi pertama, personalized cocreated experiences, meminjam istilah CK Prahalad & MS Krishnan dalam The New Age of Innovation (McGraw-Hill 2008).

Nilai guna menurut persepsi konsumen, sangat dipengaruhi oleh pengalaman konsumen dalam ikut menciptakan nilai dan dalam menggunakan produk dibandingkan dengan harga produk (konsumen memperoleh surplus konsumen). Semakin tinggi nilai guna dibandingkan dengan harganya (konsumen mengalami surplus konsumen), semakin besar kemungkinan konsumen membeli produk. Dan semakin menarik bagi produsen untuk terus melakukan aktivitas produksi atau aktivitas penciptaan nilainya (yang mengikutsertakan konsumen). Ini akan berdampak pada peningkatan nilai tambah bisnis perusahaan. Keuntungan atau surplus yang diperoleh produsen adalah pertama-tama hasil dari usahanya dalam memenuhi kebutuhan konsumen, dalam memenuhi atau menciptakan nilai yang baik bagi konsumen dan menurut persepsi konsumen yang sudah dilebur dalam proses penciptaan nilai bersama dengan produsen. Suatu proses yang indah, adanya lingkaran saling ketergantungan yang membawa manfaat bagi banyak pihak.

Ada dua kondisi ekonomi yang diperlukan agar kegiatan penciptaan nilai bertahan. Pertama, harga yang dikenakan harus melebihi biaya produksi (uang, waktu, biaya, kesenangan) yang dialami produsen dalam menciptakan nilai tersebut, paling tidak pada suatu waktu tertentu ketika proses pertukaran terjadi. Kedua, harga yang konsumen ingin bayar merupakan fungsi dari selisih kinerja antara nilai guna yang baru dari produk baru atau dari produk lama yang sudah mengalami re-touch dan alternatif produk terdekat yang konsumen miliki (produk-produk yang sudah ada). Karenanya, produsen sangat penting dan perlu untuk mengikutsertakan konsumen dalam proses penciptaan nilai. Kondisi pertama dan kedua di atas akan berjalan dengan baik pada saat produsen berfokus pada proses penciptaan nilai yang melibatkan konsumen (value co-creation). Tanpa adanya keuntungan/marjin positif yang produsen alami dan tanpa adanya kelebihan nilai guna dibanding harga (surplus konsumen) yang konsumen/pengguna alami maka dalam jangka panjang, baik konsumen/pengguna maupun produsen tidak ingin mengulangi keterlibatan mereka dalam kegiatan-kegiatan penciptaan nilai tersebut. Produsen harus memfokuskan proses penciptaan nilai dengan melibatkan konsumen atau calon konsumen (value cocreation).

Betapa eratnya seharusnya relasi antara produsen dan konsumen/pengguna dalam setiap inovasi yang dilakukan perusahaan. Betapa proses penciptaan nilai adalah sebuah proses interaksi sosial, dan bilamana dikelola dengan baik proses ini akan menghasilkan manfaat besar bagi banyak pihak.

Untuk proses penciptaan nilai secara bersama ini, kita dapat merujuk pada konsep kreativitas sosial yang mengatakan bahwa tak seorangpun dari kita sepandai semua dari kita. None of us is as smart as all of us.

Pada proses penciptaan nilai secara bersama ini, perusahaan harus fleksibel. Sudahkah perusahaan atau usaha kita bersifat fleksibel? Misalnya, fleksibilitas dalam proses pengambilan keputusan, dalam pengalokasian sumberdaya, dalam berkompromi dengan selera konsumen dan tren pasar yang mungkin tidak dapat diterima oleh produsen atau pemilik? Produsen bersama dengan konsumen dapat mencari cara-cara baru untuk menghasilkan produk berkualitas baik dengan biaya yang tidak tinggi. Perusahaan dapat mengandalkan jejaring kerjasama dengan perusahaan atau unit-unit usaha lain dan dengan konsumen atau calon konsumen. Perusahaan dapat bekerjasama denga pemerintah dalam mendukung pemberdayaan potensi lokal untuk proses produksi dan konsumsi. Dalam konteks ini, kreativitas sosial dan manajemen pengetahuan penting diperhatikan dan diterapkan untuk kebaikan dan kepentingan konsumen dan produsen secara bersama-sama.

Sudah sejauh manakah kita memperhatikan dan mengikutsertakan konsumen dalam proses penciptaan nilai (inovasi) di perusahaan atau unit-unit usaha dan kerajian kita? Bila belum, kendala-kendala apa yang kita hadapi? Bila sudah, bagaimana tingkat keberhasilan usaha kita? Demikian paparan singkat prinsip inovasi #1. Prinsip inovasi #2 berkaitan dengan akses perusahaan terhadap sumberdaya akan penulis bahas pada Kriya Edisi 14/2008. Perusahaan tidak harus mengandalkan hanya pada sumberdaya internal dan/atau lokal tetapi pada sumberdaya eksternal dan/atau global. Model rantai nilai inovasi menjadi lebih terbuka karena begitu banyak akses sumberdaya yang dapat dimanfaatkan. @F (Published on this page on July 10, 2008)

*Teaching Innovation Management & Strategy at FEUI
Coach for Innovation, Co-Founder Center for Innovation Studies

(AvantiFontana.com™)