<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>avantifontana.com &#187; Coaching Innovation</title>
	<atom:link href="http://www.avantifontana.com/blog/category/coaching/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.avantifontana.com/blog</link>
	<description>IM-ED™ Coaching Blog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Feb 2012 03:43:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>February Innovate We Can!™ Workshop Series</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2012/02/01/february-innovate-we-can%e2%84%a2-workshop-series/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2012/02/01/february-innovate-we-can%e2%84%a2-workshop-series/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 03:23:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articleship]]></category>
		<category><![CDATA[CISMEDIA]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[School of Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[art of innovation]]></category>
		<category><![CDATA[discipline of innovation]]></category>
		<category><![CDATA[entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[knowledge management]]></category>
		<category><![CDATA[practice of innovation]]></category>
		<category><![CDATA[workshop innovation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/?p=1035</guid>
		<description><![CDATA[Rata-rata iklim inovasi perusahaan di Indonesia baru mencapai 60%-70%; sementara keunggulan proses inovasi baru mencapai 45-60%. Itu salah satu hasil studi CIS School of Innovation (2009-2011)...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Salam Inovasi Ibu/Bpk Kolaborator Inovasi, Inovator, &#038; <em>Alumni Innovate We Can!™ Workshop Series</em>:<br />
</strong><br />
Rata-rata iklim inovasi perusahaan di Indonesia baru mencapai 60%-70%; sementara keunggulan proses inovasi baru mencapai 45-60%. Itu salah satu hasil studi CIS School of Innovation (2009-2011) yang dilakukan pada 300an perusahaan di Indonesia dengan responden level pimpinan/manajemen dan non-manajemen/non-pimpinan. Situasi ini menjadi salah satu penyebab krusial belum optimalnya kinerja inovasi sehingga keunggulan daya saing belum optimal.<br />
<strong>CIS menyelenggarakan dua workshop berikut ini untuk memfasilitasi perusahaan mencapai optimalitas input, proses, dan output inovasi:<br />
</strong></p>
<p>1.	The Practice &#038; Art of Innovation™ (TPAI), 21-22 Februari: Workshop membahas dan berlatih pendekatan-pendekatan INOVASI yang baik, berbasis hasil riset puluhan tahun. Workshop ini memberi cara-cara meningkatkan kinerja inovasi perusahaan atau organisasi.<br />
Daftar SEKARANG: Sdri. Ditya 08119849105.</p>
<p>2.	Knowledge Flow Management Framework (for) Innovation™ (KOMI), 28-29 Februari: Workshop membahas rerangka kerja KM untuk inovasi dan berlatih pendekatan berbagi pengetahuan dalam organisasi bisnis untuk menunjang unggulnya proses inovasi dan meningkatkan efisiensi inovasi.<br />
Daftar SEKARANG: Sdri. Ditya 08119849105.</p>
<p>Jumlah Peserta Selektif minimum 10 maksimum 20 orang.<br />
Workshop diadakan di ESTUBIZI Business Center,  Gedung Setiabudi 2,  Jl. HR Rasuna Said Kav.62, JKT 12920, 0830-1700 WIB.</p>
<p>Fasilitator: Avanti Fontana &#038; Tim. Fasilitator TPAI: Avanti Fontana &#038; Pembicara Tamu. Fasilitator KOMI: Avanti Fontana, Manerep Pasaribu, Zulkarnaen Sadikin, dan Pembicara Tamu. Tim Fasilitator merupakan Partner Ahli &#038; Praktisi Berpengalaman terkait manajemen inovasi dan pengetahuan. Avanti Fontana, Penulis Innovate We Can! (2009, 2010, 2011), Facilitator &#038; Coach Innovation, Pengajar Strategi, Inovasi &#038; Organisasi pada FEUI; Co-author with Vincent Gaspersz: Integrated Management Problem Solving, Lean Six Sigma, Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence, &#038; Organizational Excellence. </p>
<p>Terima Kasih &#038; Salam Inovasi<br />
<em>The workshops are Organized by  CIS School of Innovation®, Partner of AvantiFontana.com<br />
</em></p>
<p><em>The information contained in this posting is intended for the readers and visitors this blog and may contain confidential or privileged information. If you are not the intended recipient, please notify us immediately at workshop[at]avantifontana.com, and destroy all copies of this message and any attachments.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2012/02/01/february-innovate-we-can%e2%84%a2-workshop-series/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BNI Inspring Lecture 2011</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2011/12/09/bni-inspring-lecture-2011/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2011/12/09/bni-inspring-lecture-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Dec 2011 10:57:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articleship]]></category>
		<category><![CDATA[CISMEDIA]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[School of Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[Workshop]]></category>
		<category><![CDATA[BNI]]></category>
		<category><![CDATA[dividend]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[innovation]]></category>
		<category><![CDATA[lecture]]></category>
		<category><![CDATA[social capital]]></category>
		<category><![CDATA[speed]]></category>
		<category><![CDATA[speed of trust]]></category>
		<category><![CDATA[stephen mr covey]]></category>
		<category><![CDATA[tax]]></category>
		<category><![CDATA[trust]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[Dalam buku <em>Innovate We Can!</em> (2009, 2010, 2011), penulis menyitir konsep kredibilitas yang dibangun atas dasar karakter dan kompetensi, yang penting dalam membangun saling percaya...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menarik menghadiri dan menyimak isi <em>BNI Inspiring Lecture 2011</em> (Ballroom Shangri-La Hotel, 6 Desember 2011) yang mengangkat tema<em> Smart Trust</em> dibawakan oleh Stephen MR Covey, putra dari Stephen Covey penulis <em>The Seven Habits</em>. Stephen mengangkat pentingnya rasa saling percaya dilakukan pertama kali dan utamanya dipelopori oleh Pemimpin atau Pimpinan organisasi. Dampak positif keberadaan saling percaya adalah dividen (baca: dividen sosial, red.) dalam organisasi dan pemangku kepentingan. Dampak kurangnya saling percaya adalah pajak (baca: pajak sosial, red.) bagi organisasi dan pemangku kepentingan, yang oleh Stephen diistilahkan dengan <em>Leaders, People, Organization, Market, &#8230;</em>Bukunya, The<em> Speed of Trust</em>, memberi pesan kuat tentang dampak saling percaya pada keberhasilan organsasi dari sisi kecepatan operasional dan strategis serta efisiensi biaya.</p>
<p>Dalam buku <em>Innovate We Can!</em> (2009, 2010, 2011), penulis menyitir konsep <strong>kredibilitas</strong> yang dibangun atas dasar karakter dan kompetensi, yang penting dalam membangun saling percaya yang menjadi salah satu modal inovasi individu, organisasi, dan sosietas, yaitu modal sosial!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2011/12/09/bni-inspring-lecture-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Steve Jobs 1955-2011</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2011/10/07/steve-jobs-1955-2011/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2011/10/07/steve-jobs-1955-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 03:13:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articleship]]></category>
		<category><![CDATA[CISMEDIA]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[School of Innovation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/?p=998</guid>
		<description><![CDATA[Kami Tim Inovasi CIS menyampaikan rasa berbelarasa atas perginya Bpk Steve Jobs, salah satu inspirasi dan pelaku inovasi tingkat dunia. Pemikiran dan pelaksanaan inovasi yang beliau lakukan sejak awal hingga akhir hidupnya sungguh menginspirasi dan menggerakkan perilaku inovasi lain. Jejak dan tapak yang sudah dilalui mulai dari inspirasi inovasi hingga peluncuran produk-produk Apple, bahkan sebelum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Kami Tim Inovasi CIS menyampaikan rasa berbelarasa atas perginya Bpk Steve Jobs, salah satu inspirasi dan pelaku inovasi tingkat dunia. Pemikiran dan pelaksanaan inovasi yang beliau lakukan sejak awal hingga akhir hidupnya sungguh menginspirasi dan menggerakkan perilaku inovasi lain. Jejak dan tapak yang sudah dilalui mulai dari inspirasi inovasi hingga peluncuran produk-produk Apple, bahkan sebelum produk tersebut ada di pasaran, sungguh menggetarkan dampaknya. Dampak inovasi yang beliau pelopori jelas sekali secara ekonomi dan sosial!<br />
Salam Inovasi buat Pak Steve Jobs,<br />
Avanti Fontana</p></blockquote>
<p><strong>Berikut saya cantumkan orasi Steve Job pada Hari<br />
Wisuda Stanford University Tahun 2005. Butir ketiga orasinya sungguh menggerakkan.</strong></p>
<h3>&#8216;You&#8217;ve got to find what you love,&#8217; Jobs says</h3>
<p>This is a prepared text of the Commencement address delivered by Steve Jobs, CEO of Apple Computer and of Pixar Animation Studios, on June 12, 2005.</p>
<p>I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I&#8217;ve ever gotten to a college graduation. Today I want to tell you three stories from my life. That&#8217;s it. No big deal. Just three stories.</p>
<p>The first story is about connecting the dots.</p>
<p>I dropped out of Reed College after the first 6 months, but then stayed around as a drop-in for another 18 months or so before I really quit. So why did I drop out?</p>
<p>It started before I was born. My biological mother was a young, unwed college graduate student, and she decided to put me up for adoption. She felt very strongly that I should be adopted by college graduates, so everything was all set for me to be adopted at birth by a lawyer and his wife. Except that when I popped out they decided at the last minute that they really wanted a girl. So my parents, who were on a waiting list, got a call in the middle of the night asking: &#8220;We have an unexpected baby boy; do you want him?&#8221; They said: &#8220;Of course.&#8221; My biological mother later found out that my mother had never graduated from college and that my father had never graduated from high school. She refused to sign the final adoption papers. She only relented a few months later when my parents promised that I would someday go to college.</p>
<p>And 17 years later I did go to college. But I naively chose a college that was almost as expensive as Stanford, and all of my working-class parents&#8217; savings were being spent on my college tuition. After six months, I couldn&#8217;t see the value in it. I had no idea what I wanted to do with my life and no idea how college was going to help me figure it out. And here I was spending all of the money my parents had saved their entire life. So I decided to drop out and trust that it would all work out OK. It was pretty scary at the time, but looking back it was one of the best decisions I ever made. The minute I dropped out I could stop taking the required classes that didn&#8217;t interest me, and begin dropping in on the ones that looked interesting.</p>
<p>It wasn&#8217;t all romantic. I didn&#8217;t have a dorm room, so I slept on the floor in friends&#8217; rooms, I returned coke bottles for the 5¢ deposits to buy food with, and I would walk the 7 miles across town every Sunday night to get one good meal a week at the Hare Krishna temple. I loved it. And much of what I stumbled into by following my curiosity and intuition turned out to be priceless later on. Let me give you one example:</p>
<p>Reed College at that time offered perhaps the best calligraphy instruction in the country. Throughout the campus every poster, every label on every drawer, was beautifully hand calligraphed. Because I had dropped out and didn&#8217;t have to take the normal classes, I decided to take a calligraphy class to learn how to do this. I learned about serif and san serif typefaces, about varying the amount of space between different letter combinations, about what makes great typography great. It was beautiful, historical, artistically subtle in a way that science can&#8217;t capture, and I found it fascinating.</p>
<p>None of this had even a hope of any practical application in my life. But ten years later, when we were designing the first Macintosh computer, it all came back to me. And we designed it all into the Mac. It was the first computer with beautiful typography. If I had never dropped in on that single course in college, the Mac would have never had multiple typefaces or proportionally spaced fonts. And since Windows just copied the Mac, it&#8217;s likely that no personal computer would have them. If I had never dropped out, I would have never dropped in on this calligraphy class, and personal computers might not have the wonderful typography that they do. Of course it was impossible to connect the dots looking forward when I was in college. But it was very, very clear looking backwards ten years later.</p>
<p>Again, you can&#8217;t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life.</p>
<p>My second story is about love and loss.</p>
<p>I was lucky — I found what I loved to do early in life. Woz and I started Apple in my parents garage when I was 20. We worked hard, and in 10 years Apple had grown from just the two of us in a garage into a $2 billion company with over 4000 employees. We had just released our finest creation — the Macintosh — a year earlier, and I had just turned 30. And then I got fired. How can you get fired from a company you started? Well, as Apple grew we hired someone who I thought was very talented to run the company with me, and for the first year or so things went well. But then our visions of the future began to diverge and eventually we had a falling out. When we did, our Board of Directors sided with him. So at 30 I was out. And very publicly out. What had been the focus of my entire adult life was gone, and it was devastating.</p>
<p>I really didn&#8217;t know what to do for a few months. I felt that I had let the previous generation of entrepreneurs down &#8211; that I had dropped the baton as it was being passed to me. I met with David Packard and Bob Noyce and tried to apologize for screwing up so badly. I was a very public failure, and I even thought about running away from the valley. But something slowly began to dawn on me — I still loved what I did. The turn of events at Apple had not changed that one bit. I had been rejected, but I was still in love. And so I decided to start over.</p>
<p>I didn&#8217;t see it then, but it turned out that getting fired from Apple was the best thing that could have ever happened to me. The heaviness of being successful was replaced by the lightness of being a beginner again, less sure about everything. It freed me to enter one of the most creative periods of my life.</p>
<p>During the next five years, I started a company named NeXT, another company named Pixar, and fell in love with an amazing woman who would become my wife. Pixar went on to create the worlds first computer animated feature film, Toy Story, and is now the most successful animation studio in the world. In a remarkable turn of events, Apple bought NeXT, I returned to Apple, and the technology we developed at NeXT is at the heart of Apple&#8217;s current renaissance. And Laurene and I have a wonderful family together.</p>
<p>I&#8217;m pretty sure none of this would have happened if I hadn&#8217;t been fired from Apple. It was awful tasting medicine, but I guess the patient needed it. Sometimes life hits you in the head with a brick. Don&#8217;t lose faith. I&#8217;m convinced that the only thing that kept me going was that I loved what I did. You&#8217;ve got to find what you love. And that is as true for your work as it is for your lovers. Your work is going to fill a large part of your life, and the only way to be truly satisfied is to do what you believe is great work. And the only way to do great work is to love what you do. If you haven&#8217;t found it yet, keep looking. Don&#8217;t settle. As with all matters of the heart, you&#8217;ll know when you find it. And, like any great relationship, it just gets better and better as the years roll on. So keep looking until you find it. Don&#8217;t settle.</p>
<p>My third story is about death.</p>
<p>When I was 17, I read a quote that went something like: &#8220;If you live each day as if it was your last, someday you&#8217;ll most certainly be right.&#8221; It made an impression on me, and since then, for the past 33 years, I have looked in the mirror every morning and asked myself: &#8220;If today were the last day of my life, would I want to do what I am about to do today?&#8221; And whenever the answer has been &#8220;No&#8221; for too many days in a row, I know I need to change something.</p>
<p>Remembering that I&#8217;ll be dead soon is the most important tool I&#8217;ve ever encountered to help me make the big choices in life. Because almost everything — all external expectations, all pride, all fear of embarrassment or failure &#8211; these things just fall away in the face of death, leaving only what is truly important. Remembering that you are going to die is the best way I know to avoid the trap of thinking you have something to lose. You are already naked. There is no reason not to follow your heart.</p>
<p>About a year ago I was diagnosed with cancer. I had a scan at 7:30 in the morning, and it clearly showed a tumor on my pancreas. I didn&#8217;t even know what a pancreas was. The doctors told me this was almost certainly a type of cancer that is incurable, and that I should expect to live no longer than three to six months. My doctor advised me to go home and get my affairs in order, which is doctor&#8217;s code for prepare to die. It means to try to tell your kids everything you thought you&#8217;d have the next 10 years to tell them in just a few months. It means to make sure everything is buttoned up so that it will be as easy as possible for your family. It means to say your goodbyes.</p>
<p>I lived with that diagnosis all day. Later that evening I had a biopsy, where they stuck an endoscope down my throat, through my stomach and into my intestines, put a needle into my pancreas and got a few cells from the tumor. I was sedated, but my wife, who was there, told me that when they viewed the cells under a microscope the doctors started crying because it turned out to be a very rare form of pancreatic cancer that is curable with surgery. I had the surgery and I&#8217;m fine now.</p>
<p>This was the closest I&#8217;ve been to facing death, and I hope it&#8217;s the closest I get for a few more decades. Having lived through it, I can now say this to you with a bit more certainty than when death was a useful but purely intellectual concept:</p>
<p>No one wants to die. Even people who want to go to heaven don&#8217;t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life&#8217;s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.</p>
<p>Your time is limited, so don&#8217;t waste it living someone else&#8217;s life. Don&#8217;t be trapped by dogma — which is living with the results of other people&#8217;s thinking. Don&#8217;t let the noise of others&#8217; opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.</p>
<p>When I was young, there was an amazing publication called The Whole Earth Catalog, which was one of the bibles of my generation. It was created by a fellow named Stewart Brand not far from here in Menlo Park, and he brought it to life with his poetic touch. This was in the late 1960&#8242;s, before personal computers and desktop publishing, so it was all made with typewriters, scissors, and polaroid cameras. It was sort of like Google in paperback form, 35 years before Google came along: it was idealistic, and overflowing with neat tools and great notions.</p>
<p>Stewart and his team put out several issues of The Whole Earth Catalog, and then when it had run its course, they put out a final issue. It was the mid-1970s, and I was your age. On the back cover of their final issue was a photograph of an early morning country road, the kind you might find yourself hitchhiking on if you were so adventurous. Beneath it were the words: &#8220;Stay Hungry. Stay Foolish.&#8221; It was their farewell message as they signed off. Stay Hungry. Stay Foolish. And I have always wished that for myself. And now, as you graduate to begin anew, I wish that for you.</p>
<p>Stay Hungry. Stay Foolish.</p>
<p>Thank you all very much.</p>
<p><a href="http://www.macworld.com.au/news/steve-jobs-stanford-commencement-speech-38198/">Banyak sumber yang mengunduh Pidato Fenomenal ini, antara lain, klik kalimat ini.</a></p>
<p>Avanti Fontana</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2011/10/07/steve-jobs-1955-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Protected: Client Pages</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2011/10/05/client-pages/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2011/10/05/client-pages/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 08:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coaching Innovation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/?p=991</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form action="http://www.avantifontana.com/blog/wp-pass.php" method="post">
<p>This post is password protected. To view it please enter your password below:</p>
<p><label for="pwbox-991">Password:<br />
<input name="post_password" id="pwbox-991" type="password" size="20" /></label><br />
<input type="submit" name="Submit" value="Submit" /></p></form>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2011/10/05/client-pages/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Social Innovation (2)</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2011/09/29/social-innovation-2/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2011/09/29/social-innovation-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 19:32:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articleship]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[School of Innovation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/?p=977</guid>
		<description><![CDATA[Inovasi dan Kewirausahaan Kontekstual ... Kembali pada pernyataan awal artikel ini, kerja sama Pemerintah, Bisnis, Akademisi, dan Komunitas itu mendesak dan penting; apa, mengapa, dan bagaimana caranya? Mulai dari mana? Seberapa penting melakukan pemetaan awal kinerja input, proses, dan output inovasi sebelum lebih lanjut memberikan deskripsi dan preskripsi?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>INOVASI DAN KEWIRAUSAHAAN KONTEKSTUAL</h3>
<p>“Sekitar 23 orang pengrajin anyaman, batik, bordir, kelom, dan pisau di Tasikmalaya Jawa Barat berkumpul dan merespons terhadap pertanyaan yang secara bergiliran disampaikan oleh peneliti. Acara mulai pagi sampai jelang sore, saat matahari menyembunyikan dirinya di balik kemegahan langit Tasik. Sambutan gapura sentra pengrajin mengawali perbincangan kami yang berlangsung dalam suasana relaks sekaligus serius. Sentra kerajinan bordir yang dilihat sebagian pihak tengah mengalami <em>sunset</em>, kelihatan aktif mengembangkan dirinya. Begitu pula dengan pengrajin anyaman, kelom, batik, dan pisau. Semangat mereka membludak di tengah kerinduan perbaikan suasana dan dukungan usaha.<br />
Yang mereka sampaikan sebagai tantangan menyebut SDM dan (kaitannya dengan) produksi serta kelangsungan hidup organisasi usaha mereka. Beberapa pengusaha mempertanyakan dan bertanya-tanya tentang keberlangsungan tersedianya bahan baku produksi, dan menyampaikan betapa besar kebutuhan akan regulasi yang kondusif untuk usaha. Saat tantangan usaha di depan mata, saat yang sama mereka kebanjiran pesanan. Upaya pemasaran yang lebih canggih dan intensif (misalnya via Internet, Facebook, Iklan) mereka lakukan dengan hati-hati dan realistis, menghindari over promise, under deliver. Mereka merindukan kerja sama berbagai pihak terkait, khususnya lingkaran Akademisi – Bisnis – Pemerintah dan Komunitas dalam menghadapi tantangan usaha. Bayangkan apa jadinya industri kerajinan anyaman saat bahan baku mendong semakin menipis dan semakin pendek kondisinya.” </p>
<blockquote><p>Kerja sama Pemerintah, Bisnis, Akademisi, dan Komunitas itu sendiri adalah mendesak dan penting. Bagaimana caranya?</p></blockquote>
<p>Kepemimpinan, budaya, pasar modal, dan pelanggan yang terbuka membentuk ekosistem kewirausahaan. Begitulah simpulan riset Babson College “Babson Entrepreneurship Ecosystem Project.” Elemen?elemen tersebut memberi energi besar untuk penciptaan ventura baru dan pertumbuhan ekonomi. Peran pemerintah krusial dalam pembangunan kewirausahaan di negaranya. Empat faktor besar di atas harus dikombinasikan dalam sistem yang holistik dan pemerintah menerapkan sembilan prinsip kunci berikut ini. Penulis menyusun paparan ini berbasis laporan riset Daniel J Isenberg dalam Harvard Business Review (June 2010: 41?50).</p>
<p>1. Berhentilah meniru Silicon Valley. Apple, Google, Oracle, Intel, dan eBay lahir di sana. Begitu pula perusahaan lain bisa lahir dari valley?valley lain di belahan bumi lain. Kuncinya? Membangun ekosistem inovasi di wilayah?wilayah tertentu di suatu negara. Ekosistem ini ada di sekitar sumber daya fisik dan nonfisik dalam suatu wilayah. Negara bekerja sama dengan sektor swasta harus menciptakan ekosistem ini dengan sengaja dan berdesain sistemik organik dan memperhitungkan empat elemen utama: kepemimpinan inovatif, budaya inovatif, pasar modal yang kondusif, dan pelanggan yang terbuka (termasuk keterbukaan mereka dalam melibatkan dan dilibatkan pada dalam proses inovasi).</p>
<p>Stimulator inovasi harus ada. Sekali ini ada, di mana pun, kapan pun, prasyarat yang penting untuk inovasi ada. Lama?kelamaan iklim inovasi dan kewirausahaan inovatif terbangun dari diamnya yang lama karena miskin stimulator. Mihaly Csikzentmihalyi, dalam karya seminalnya berjudul Creativity, menyebut tujuh faktor penentu kontribusi kreatif individu: training, ekspektasi, sumber daya, pengakuan, harapan, peluang, dan imbal jasa. Saya menyebut ini sebagai ekosistem individu kreatif yang erat kaitannya dengan kewirausahaan inovatif. Besarnya sumber daya inovasi dan kewirausahaan di Silicon Valley tentu tidak terjadi begitu saja. Ia merupakan hasil berbagai benturan budaya, kegagalan dan keberhasilan, trial and error. Melihat kemungkinan membangun ekosistem inovasi dari nol dan berproses sesuai konteks sosial, ekonomi, wilayah (lokalitas) penting dalam rangka membangun valley?valley lain di suatu negara dengan karakteristik sangat berbeda dari Silicon Valley.</p>
<p>2. Ekosistem kewirausahaan inovatif harus sesuai dengan kondisi lokal (kontekstual). Ini sering diabaikan karena pengelola organisasi cenderung melihat best practices. Kecenderungan ini menyulitkan dan mendemotivasi. Pandangan menjadi minus karena kita langsung melihat hasil tanpa memahami mengapa dan bagaimana proses mencapainya. </p>
<p>Jika Anda perhatikan proses inovasi organisasi perusahaan inovatif berbagai ukuran, Anda akan melihat kemampuan mereka memperhitungkan konteks lokal, termasuk pendapat calon pelanggan/konsumen/pengguna dan para pemangku kepentingan lainnya; termasuk kemampuan mereka dalam menentukan “kapan” pendapat atau selera konsumen disampingkan dahulu (untuk sementara). </p>
<p>3. Pemerintah harus memperhitungkan faktor?faktor lokal seperti budaya lokal, iklim, dan selera lokal. Organisasi perusahaan memakai pendekatan antropologi dan etnografi untuk memahami kondisi dan konteks lokal. Mereka menginternasiliasikannya antara lain dalam produk, barang atau jasa, proses produksi, dan cara berkomunikasi. Jika Anda mendalami dan/atau memperhatikan pendekatan design thinking, Anda melihat pendekatan ini sebagai cara memahami kondisi pelanggan/pengguna dalam lokalitasnya, dalam konteksnya yang beragam. </p>
<blockquote><p>Panggilan bagi Indonesia: memusatkan perhatian pembangunan kewirausahaan strategis (berinovasi) pada konteks lokal, kondisi lokal dan potensi lokal. </p></blockquote>
<p>Indonesia harus meningkatkan keberdayaan masyarakat lokal berkelanjutan untuk berwirausaha sesuai konteks lingkungannya. Bangun ekosistem yang kondusif! Ini sebetulnya bukan hal baru. Kesenjangannya adalah pada saat kita (sepertinya) terpuruk, saat yang sama pula kita kelimpahan sumber daya (aktual dan potensial). Mengapa kita terlena dalam keterpurukan sekaligus keberlimpahan sumber daya?</p>
<p>Kewirausahaan strategis tetap berprinsip pada eksplorasi peluang dan eksploitasi peluang berbasis sumber daya yang bernilai, langka, sulit ditiru, sulit ditemukan penggantinya, dan dapat dieksploitasi.</p>
<p>4. Libatkan sektor swasta merupakan prinsip keberhasilan revolusi entrepreneurial. Pemerintah sendirian dengan top?down approach tidak dapat membangun ekosistem inovasi dan kewirausahaan. Pemerintah harus melibatkan sektor swasta yang secara genetik merupakan sektor yang punya motivasi dan pandangan untuk berdikari dan yang dipicu oleh keuntungan pasar. </p>
<p>Membangun sistem inovasi nasional harus melibatkan sektor swasta. Pelibatan ini sejak awal, mulai dari persiapan formulasi atau formasi strategi sistem (ekosistem) inovasi nasional, implementasi, pengendalian dan/atau perubahannya. Tidak cukup pemerintah sendirian yang memimpin pembentukan ekosistem inovasi nasional. Libatkan sektor swasta dalam proses inovasi nasional sedini mungkin. </p>
<p>Mari berkaca dari praktik overlapping new product development, bagaimana bisnis melibatkan R&#038;D, Produksi dan fungsi?fungsi lain sejak awal proses penggalian ide/peluang inovatif. Mari berkaca dari pendekatan <em>design thinking</em>, bagaimana proses penciptaan produk apapun (termasuk produk sistem inovasi) melibatkan calon pelanggan sejak sangat awal proses inovasi dan prosesnya bolak-balik tanpa henti sampai prototipe produk final jadi, siap pakai atau siap terap. Arogansi birokrasi pemerintahan sering menyebabkan tingkat keterlibatan pemangku kepentingan sangat minim atau bahkan tidak ada.</p>
<p>5. Pembangunan ekosistem kewirausahaan inovatif mendukung wirausaha?wirausaha yang berpotensi besar. Dan jika sumber daya terbatas adanya, program yang mendukung lahirnya bisnis?bisnis baru harus memprioritaskan para pemilik potensi tinggi. Kita dapat mengaitkannya dengan paradigma pembangunan kewirausahaan berbasis discovery dan creation. Kriteria kelayakan business plan tidak cukup untuk menilai tinggi rendahnya potensi kewirausahaan inovatif. Para pengambil keputusan pendanaan/pemodalan ventura baru harus berdasarkan tinggi rendahnya potensi keberhasilan penciptaan nilai sosial dan ekonomi. Ini sama halnya dengan membedakan <em>sustaining innovation</em> dari<em> disruptive innovation</em> (<em>The Innovator’s Dilemma</em>, CM Christensen 2006).</p>
<p>6. Pemenang walau jumlahnya sedikit dapat menyulut inspirasi dan keberhasilan ekosistem inovasi dan kewirausahaan yang kondusif. Sukses?sukses awal kewirausahaan akan mengurangi persepsi bahwa berwirausaha itu sulit dan penuh risiko. Dukungan pemerintah dan media harus besar untuk mengangkat kesuksesan?kesuksesan wirausaha. Kampanye keberhasilan harus luas. Lomba inovasi dan kewirausahaan menjamur. Umumkan pemenangnya di mana?mana untuk membangun suasana dan persepsi kondusif.</p>
<p>Situasi itu dapat mengubah lingkungan yang tadinya kaku tanpa penghargaan menjadi kondusif mengapresiasi aktivitas berwirausaha. Peran media tidak hanya dalam mengumumkan pemenang tetapi juga dalam mengubah perilaku. Contoh: Harian dengan oplah terbesar di Puerto Rico, El Nuevo Dia, mendukung kewirausahaan lokal dengan menerbitkan setiap minggu kisah sukses bisnis?bisnis baru. Di pulau kecil, cerita?cerita itu menjadi bagian dari dialog sosial harian dan meningkatkan kesadaran adanya peluang berwirausaha dan keberadaan instrumen untuk mengeksploitasi peluang tersebut.</p>
<p>7. Perlu cara pendanaan yang ketat. Keliru jika pemerintah atau pihak manapun membanjiri wirausaha?wirausaha potensial dengan uang berlimpah yang mudah diperoleh. Wirausaha dini harus dipaparkan dengan tantangan pasar. Aturan pendanaan yang ketat dapat diterapkan untuk mengeliminasi oportunis yang memanfaatkan dana dengan mudah. Ekosistem inovasi dan kewirausahaan harus dibangun dalam situasi kelangkaan untuk melatih kekuatan, efektivitas, dan daya tahan pengelolaan usaha. Ketergantungan pada dana pihak ketiga dan pemanfaatan peluang memenangkan piala wirausaha berprestasi tanpa latihan daya tahan pasar akan melemahkan ekosistem kewirausahaan mandiri yang inovatif. </p>
<p>Pemerintah Indonesia perlu meninjau pola pendanaan dan pendampingan para wirausaha baru agar tidak melenakan mereka dari segala pasang surut perjuangan usaha dan tidak mengabaikan mereka yang sangat potensial berdaya juang tinggi namun kurang modal dan pendampingan manajemen inovasi dan kewirausahaan.</p>
<p>8. Jangan merekayasa kluster secara berlebihan. Biarkan kluster tumbuh secara organik. Michael Porter mempopulerkan strategi kluster. Strategi kluster telah dipromosikan oleh banyak pemerintahan dalam rangka meningkatkan kewirausahaan dan daya saing ekonomi. </p>
<blockquote><p>Pemerintah harus mendukung perkembangan kluster yang ada dan yang muncul secara organik alih?alih membangun yang baru (mulai dari nol).</p></blockquote>
<p>Kluster secara organik terbentuk karena lingkungan yang ada mendukung secara sosial dan fisik. Pembentukan kluster secara sepihak tanpa memperhatikan isi dan konteks lokal atau wilayah setempat akan menghasilkan hampa bahkan kerugian. </p>
<p>Pemerintah harus kurang birokratis dalam menentukan perkembangan arah kluster. Pemerintah sebaiknya melihat arah kecenderungan (potensi) kewirausahaan wilayah?wilayah tertentu di negara. Dan berbasis pemetaan itu, pemerintah membantu mengoptimalkan kerja sama berbagai pihak dalam membangun ekosistem inovasi dan kewirausahaan yang kondusif yang dicerminkan oleh dukungan kepemimpinan, budaya, pasar modal, dan masyarakat yang terbuka.</p>
<p>9. Lakukan reformasi hukum, birokrasi, dan rerangka regulasi. Kunci kesembilan ini menjadi puncak pembangunan ekosistem inovasi dan kewirausahaan negara. Lihat indeks inovasi global Indonesia (INSEAD, 2009-2011), yang berturut-turut mengalami penurunan indeks dari rangking 49 pada tahun 2009, menjadi 72 pada 2010, dan 99 pada 2011. </p>
<p>Peter Drucker (1985) menulis dan mengingatkan pentingnya inovasi sosial untuk membangun sosietas entrepreneurial. Pertama penciptaan lapangan pekerjaan harus menjadi prioritas. Peraturan dan reformasinya mendukung aktivitas entrepreneurial yang menciptakan lapangan pekerjaan sebesar mungkin sehingga sumber daya (yaitu daya beli) terus?menerus tercipta. Kedua, pemerintah berani mengorganisir penghapusan atau bahkan menghapus kebijakan dan peraturan yang sudah tidak relevan dan tidak menunjang era inovasi dan kewirausahaan. Anggota dewan legislatif memiliki pekerjaan besar dan misioner untuk mengevaluasi peraturan dan undang?undang, berhasil memilah yang sudah tidak layak pakai dari yang layak pakai dan yang membuat yang baru untuk membangun sosietas entrepreneurial.</p>
<p>Biasanya reformasi hukum dan birokrasi membutuhkan waktu panjang sementara aktivitas kewirausahaan terjadi sebelum hukum dan birokrasi betul?betul diperbarui. Ini menunjukkan, pada situasi ketat aturan dan hukum yang tidak kondusif, banyak wirausaha lahir. Situasi banyaknya kewirausahaan yang lahir ini makin mendorong meningkatnya kebutuhan reformasi hukum dan birokrasi! Reformasi hukum dan birokrasi tidak efektif tanpa pendekatan lunak yang pemerintah dapat lakukan lebih cepat seperti menghilangkan hambatan budaya, mengedukasi wirausaha dan mempromosikan kisah?kisah sukses mereka.</p>
<p>Pemerintah bisa mengubah kekakuan menjadi keluwesan dengan mempermudah prosedur pemutusan hubungan kerja bagi mereka yang mau membuka usaha sendiri dan menciptakan serta menderegulasi pasar modal untuk kepentingan entrepreneurial. Hapus rezim pajak yang tidak efektif yang menghambat perkembangan kewirausahaan inovatif. Jangan sampai rezim pajak yang ada menjadi batu sandungan perbesaran kewirausahaan inovatif. Di Puerto Rico, seperti disampaikan Daniel Isenberg (2010), rejim pajak yang tidak efektif malah mendorong banyak wirausaha untuk tetap kecil sehingga mereka bisa tetap mempertahankan banyak pengeluaran pribadi mereka sebagai investasi bisnis.</p>
<p>Pengembangan ekosistem inovasi dan kewirausahaan memerlukan kerja sama kolaboratif sektor pemerintah, swasta, akademisi, dan nirlaba. Pemerintah harus menggeser paradigma pembangunan inovasi dan kewirausahaan dan belajar dari sembilan kunci. Libatkan sektor swasta, ubah norma budaya, hilangkan hambatan regulasi, dorong dan rayakan keberhasilan sekecil apapun, buat peraturan yang kondusif, pahami konteks dalam pembangunan kluster dan pengembangan inkubator, danai kewirausahaan berbasis keketatan pasar, dan di atas semua itu, dekati pembangunan ekosistem kewirausahaan secara holistik (sistem organik) untuk menstimulasi pertumbuhan yang menyejahterakan masyarakat. </p>
<blockquote><p>Pemerintah berinovasi sosial. Inovasi dan kewirausahaan bukan sekedar hal teknis, melainkan sosial! </p></blockquote>
<p>Kembali pada pernyataan awal artikel ini, kerja sama Pemerintah, Bisnis, Akademisi, dan Komunitas itu mendesak dan penting; apa, mengapa, dan bagaimana caranya? Mulai dari mana? Seberapa penting melakukan pemetaan awal kinerja input, proses, dan output inovasi sebelum lebih lanjut memberikan deskripsi dan preskripsi?</p>
<p><a href="http://www.avantifontana.com/blog/contact/">Avanti Fontana, <em>Facilitator &#038; Coach Innovation</em></a><br />
imed[at]avantifontana.com<br />
Salam Inovasi &#038; Selamat Berkolaborasi!<br />
Serpong, 29 September 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2011/09/29/social-innovation-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Social Innovation (1)</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2011/09/28/social-innovation/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2011/09/28/social-innovation/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 17:10:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articleship]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[Research]]></category>
		<category><![CDATA[School of Innovation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/?p=963</guid>
		<description><![CDATA[Apa? Mengapa? Bagaimana cara? Siapa penggerak? Masyarakat? Parlemen? Komunitas?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dewasa ini perhatian dunia tidak saja pada inovasi bisnis melainkan sudah meluas pada inovasi sosial. Bahasan dan implementasi inovasi sosial ini tidak lagi hanya menjadi perhatian negara, melainkan juga menjadi perhatian bisnis. Istilah <em>Corporate Shared Values</em> menunjukkan semakin menyatunya pendapat dan praktik bahwa implementasi inovasi harus berdampak ekonomi dan sosial, keduanya dalam arti luas. </p>
<p>Dalam lingkup yang lebih spesifik, inovasi pemerintahan atau <em>government innovation</em> atau inovasi perekonomian atau inovasi politik dan seterusnya merupakan bentuk-bentuk inovasi sosial. Dampaknya akan luar biasa bagi kesejahteraan bilamana inovasi sosial jenis ini dilaksanakan dengan benar dan baik. </p>
<p>Apa? Mengapa?<br />
Bagaimana cara? Siapa penggerak? Masyarakat? Parlemen? Komunitas?</p>
<blockquote><p><a href="http://www.avantifontana.com/blog/wp-content/uploads/2011/09/BIC-inno111.pdf">Lihat artikel terbaru dari <em>McKinsey Quarterly</em> September 2011 tentang Inovasi di Pemerintahan yang mengangkat contoh Kenya dan Georgia.</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2011/09/28/social-innovation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Innovation Briefs #1: Collaboration</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2011/07/27/innovation-briefs-1-collaboration/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2011/07/27/innovation-briefs-1-collaboration/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 12:05:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articleship]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[School of Innovation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/?p=943</guid>
		<description><![CDATA[Keberhasilan kolaborasi dapat memprediksi keberhasilan inovasi pada semua level: individu, organisasi, dan masyarakat/komunitas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>[Briefs written by Avanti Fontana, shared for discussion, comment &#038; reflection.]</em></p>
<p>Inovasi yang dilaksanakan dalam organisasi (tidak saja pada tingkat indvidu dan masyarakat) menjadi pusat perhatian dewasa ini. Ini karena tingkat kepentingannya yang tinggi sekaligus karena tantangannya yang tidak sedikit.</p>
<p>INOVASI yang diartikan sebagai keberhasilan secara sosial ekonomi karena<br />
diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara lama dalam mengubah INPUT menjadi OUTPUT sehingga dihasilkan PERUBAHAN DRASTIS dalam perbandingan antara NILAI MANFAAT dan HARGA belum dapat terwujud bila organisasi belum memberi cukup perhatian terhadap aktivitas-aktivitas inovasi di dalam organisasi dan manajemennya. Para manajer dan staf kerap menghadapi dilema yang tidak mudah dipecahkan sesaat saja dalam mengatur dan menyusun prioritas kegiatan rutin harian dan kegiatan rutin inovasi. Tidak hanya mengatur dan menyusun, tetapi juga menjaga keseimbangan di antara dua rutinitas yang berbeda karakter itu.</p>
<p>Sekilas catatan itu muncul dari sekian catatan hasil interaksi saya dan tim dengan peserta dalam workshop <em>The Practice &#038; Art of Innovation, Knowledge Management (for) Innovation, Knowledge Sharing (for) Innovation, Innovation Leadership</em>, dan lokakarya-lokakarya inovasi &#038; kewirausahaan. Dan pada workshop publik mendatang (INFO HP 0811 9849 105) yang akan membahas secara khusus Disiplin Praktik Inovasi dengan kombinasi pendekatan knowledge-flow management, peserta akan berbagi dan berpraktik aktivitas <em>knowledge sharing</em> yang penting ada untuk membuat proses-proses inovasi dalam organisasi lebih efisien dan efektif, dan akhirnya lebih unggul.</p>
<p>Ada banyak cara untuk mendiseminasi sekaligus mempopulerkan pemikiran,<br />
sistematika, contoh praktik, dan instrumen diagnosis inovasi. Cara-cara tersebut misalnya lewat penciptaan atau penyelenggaraan media pembelajaran seperti dalam bentuk workshop dan seminar inovasi, komunikasi lewat milis dan penerbitan buku tentang dan terkait dengan inovasi dan tata kelolanya. Dewasa ini, aktivitas diseminasi makin marak. Dan ini merupakan berita baik apalagi kalau dikembangkan lebih lanjut sehingga yang didiseminasi bermanfaat lebih banyak daripada jika tidak didiseminasi sama sekali atau hanya didiseminasi secara eksklusif.</p>
<p>Dalam rangka menajamkan kemahiran dalam berpraktik inovasi mulai dari aktivitas paling sederhana sehari-hari hingga aktivitas berbasis projek jangka panjang atau bahkan inisiatif besar tanpa akhir, komunitas-komunitas bisnis dan sosial perlu merutinkan aktivitas-aktivitas berbagi informasi dan pengetahuan yang relevan (atau bisa juga awalnya kelihatan kurang relevan) lewat forum-forum umum atau khusus. </p>
<p><em>Communities of Practice</em> dan <em>Communities of Interest</em> dapat dibudayakan. Untuk itu perlu administrator dan moderator yang rajin menggerakkan denyut nadi aktivitas <em>sharing</em> (<em>knowledge sharing activities</em>).</p>
<p>Para <em>inventor-innovator-entrepreneur</em> dapat semakin berkolaborasi dalam atau untuk berinovasi. Masing-masing tidak bekerja sendiri-sendiri. <em>None of us is as smart as all of us!<br />
</em></p>
<p>Selamat Berinovasi!<br />
Avanti Fontana<br />
<em>Author, INNOVATE WE CAN!<br />
</em><br />
INNOVATE WE CAN! (Edisi Revisi, Cetakan Ketiga, 2011)<br />
Jumlah halaman: xxxviii + 355, Ukuran buku: 15 x 23 cm</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2011/07/27/innovation-briefs-1-collaboration/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Momentum Inovasi (7)</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2011/05/11/momentum-inovasi-7/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2011/05/11/momentum-inovasi-7/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 03:05:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articleship]]></category>
		<category><![CDATA[CISMEDIA]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching Innovation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/?p=924</guid>
		<description><![CDATA["If we stop thinking of the poor as victims or as a burden and start recognizing them as resilient and creative entrepreneurs and value-conscious consumers, a whole new world of opportunity will open up." (CK Prahalad)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Fortune at the Bottom of the Pyramid &#038; Democratizing Wealth Creation</h2>
<p>Perhatian para inovator-pengusaha (<em>innovator-entrepreneur</em>) adalah luas.  Mereka memperhatikan fokus dan cara meningkatkan kue para pemangku kepentingan yang termasuk konsumen dan sekaligus konsumen yang ada di piramida bawah (<em><a href="http://www.12manage.com/methods_prahalad_bottom_of_the_pyramid.html">Bottom of the Pyramid</a></em>, BOP); mereka yang bahkan (sebelumnya) belum mampu membeli produk-produk berkualitas baik.</p>
<p>Para inovator-pengusaha mengetahui bahwa fokus dari inovasi adalah konsumen/pengguna/pasar. Dalam pendekatan inovasi dewasa ini, <a href="http://www.12manage.com/methods_prahalad_bottom_of_the_pyramid.html">CK Prahalad</a> mengingatkan para inovator-pengusaha untuk melihat pasar BOP sebagai fokus berinovasi.<br />
Menurut saya, hal ini menurut saya menyangkut empat alternatif:</p>
<p><strong>1. Inovator-pengusaha membuat unit bisnis atau divisi khusus yang mengurusi pasar BOP.</p>
<p>2. Inovator-pengusaha memfokuskan usahanya pada pelayanan pasar BOP.</p>
<p>3. Inovator-pengusaha mengganti program-program CSR dengan program-program inovasi BOP.</p>
<p>4. Inovator-pengusaha bekerja sama dengan pasar BOP untuk menciptakan barang atau jasa bagi BOP.<br />
</strong></p>
<p>Setidaknya empat alternatif itu ada dan dapat dipertimbangkan sebagai upaya berinovasi bisnis dengan dampak sosial luar biasa, atau kita sebut dampak kuantum. Untuk itu pendekatan berkoinovasi atau <em>value co-creation</em> harus melibatkan pihak-pihak terkait pada lima sektor aktor/pelaku inovasi:<br />
1. <em>Local Government</em><br />
2. <em>Private Enterprises</em><br />
3. <em>Civil Society Organizations; Development &#038; Aid Agencies</em><br />
4. <em>BOP Consumers</em><br />
5. <em>BOP Entrepreneurs</em></p>
<p>Keterlibatan kolaboratif-inovatif mereka bertujuan untuk menunjang dan memanifestasikan pembangunan ekonomi dan menciptakan transformasi sosial.</p>
<p>Tiada kalimat yang lebih indah daripada menuliskan kembali di sini bahwa inovasi merupakan keberhasilan secara sosial dan ekonomi karena diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara lama dalam mentransformasi input menjadi output sedemikian rupa sehingga dihasilkan perubahan besar atau <em>kuantum</em> dalam perbandingan antara nilai manfaat dan harga menurut persepsi konsumen dan/atau pengguna (lihat <em><strong>Innovate We Can!</strong></em> 2011, Bab 1-11).</p>
<p>Dan sering untuk menghasilkan perubahan kuantum di BOP, organisasi bisnis perlu melakukan inovasi-inovasi model bisnis dalam rangka memilih satu dari empat alternatif di atas. Inovasi model bisnis tersebut dilakukan dengan fokus pada satu skenario besar yaitu: meningkatkan<br />
<h3><em>CPV</em></h3>
<p> (<em>customer perceived value</em>) dan menurunkan<br />
<h3><em>P</em></h3>
<p> (<em>price</em>).</p>
<p>Terima Kasih &#038; Salam Inovasi<br />
Avanti Fontana</p>
<h2><strong>EVENTS &#8211; Indonesia Banking Expo 2011 &#8211; Developing a sustainable textile industry &#8211; Syariah Stream May 12, 2011<br />
</strong></h2>
<p>Assembly Hall &#8211; Jakarta Convention Center<br />
Thursday, 12 Mei 2011<br />
13.00 &#8211; 17.00 WIB<br />
Theme: Syariah Stream &#8211; Democratizing Wealth Creation<br />
Moderator: M Syakir Sula (Bahasa Indonesia)</p>
<p>1. The Fortune at The Bottom of Pyramid – Global &#038; Indonesia Trends?<br />
Speaker: Sunarsip (Komisaris BRI Syariah)</p>
<p>2. Flip Up Pyramid – The Pyramid in Islamic Country – The Sharia Objective<br />
Speaker: Yuslam Fauzi (Direktur Utama Bank Syariah Mandiri)</p>
<p>3. Technology Revolution – Creating Very Cheap Transaction Cost<br />
Speaker:  Betti Alisjahbana (PT. Quantum Business International)</p>
<p>4. Regulation Approach to be?<br />
Speaker:  Edy Putra Irawady (Deputy Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan)</p>
<p>5. Innovation: Trends and Approach<br />
<a href="http://www.avantifontana.com/blog/contact/">Speaker: Avanti Fontana (Dosen Fakultas Ekonomi &#8211; Universitas Indonesia)</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2011/05/11/momentum-inovasi-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Momentum Inovasi (6)</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2011/04/21/momentum-inovasi-6/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2011/04/21/momentum-inovasi-6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 11:32:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coaching Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[School of Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[continuous improvement]]></category>
		<category><![CDATA[Innovate We Can!]]></category>
		<category><![CDATA[kaizen]]></category>
		<category><![CDATA[workshop innovation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/?p=917</guid>
		<description><![CDATA[Sering peserta bertanya apakah continuous improvement termasuk inovasi? Saya menjawab: ia termasuk inovasi sejauh ia menciptakan nilai tambah (surplus produsen dan surplus konsumen) bagi para pemangku kepentingan dilaksanakannya perbaikan berkelanjutan tersebut. Secara umum saya dapat mengatakan bahwa perbaikan berkelanjutan membawa manfaat. Pertanyaannya, seberapa besar manfaat tersebut? Semakin besar, semakin inovatif tentunya. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inovasi sebagai &#8220;keberhasilan secara sosial dan ekonomi karena diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara lama dalam &#8230; sehingga menghasilkan perubahan besar dalam perbandingan antara NILAI MANFAAT dan HARGA menurut persepsi konsumen dan/atau pengguna&#8221; (Fontana 2009, 2010, 2011) baru dapat terwujud bila proses-proses kerja di dalam organisasi/perusahaan juga inovatif. Workshop Inovasi 4-5 Mei 2011 mengangkat secara khusus disiplin inovasi di lingkungan kerja termasuk proses-proses inovasi yang mengarah pada perbaikan sistem kerja dan continuous improvement. Pendekatan workshop ini menekankan pada interaksi dan diagnosis inovasi serta pendampingan <em>coaching</em> inovasi.</p>
<blockquote><p>Workshop on Innovation at Work, Continuous Improvement, Product Launch: Seven Steps to Effective Innovation</p></blockquote>
<p>Relevansi workshop ini bagi peningkatan efisiensi dan efektivitas pekerjaan perlu dibuktikan tidak saja dampaknya selama workshop melainkan setelah workshop. Efektivitas setiap workshop perlu dievaluasi secara reguler dan sistematis setelah workshop selesai. Periodisasinya tergantung pada konteks dan kebutuhan evaluasi kinerja pascaworkshop.</p>
<p>Kontak kami untuk info lebih lanjut di 0811 9849 105. <a href="http://www.avantifontana.com/blog/wp-content/uploads/2011/04/KONTAN-REG-FORM-WS-INNOVATION4-5Mei-2011.pdf">[Formulir Pendaftaran Workshop]</a></p>
<p>Terima Kasih &#038; Salam Inovasi,<br />
Avanti Fontana &#038; Tim</p>
<p><em>If you enjoyed this post, make sure to subscribe to my rss feed.</em> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2011/04/21/momentum-inovasi-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Protected: Momentum Inovasi (5)</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2011/04/17/momentum-inovasi-5/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2011/04/17/momentum-inovasi-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Apr 2011 08:03:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Articleship]]></category>
		<category><![CDATA[Coaching Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[School of Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[CIS School]]></category>
		<category><![CDATA[CIS School of Innovation]]></category>
		<category><![CDATA[innovation management]]></category>
		<category><![CDATA[managing innovation]]></category>
		<category><![CDATA[workshop innovation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/?p=905</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form action="http://www.avantifontana.com/blog/wp-pass.php" method="post">
<p>This post is password protected. To view it please enter your password below:</p>
<p><label for="pwbox-905">Password:<br />
<input name="post_password" id="pwbox-905" type="password" size="20" /></label><br />
<input type="submit" name="Submit" value="Submit" /></p></form>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2011/04/17/momentum-inovasi-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

