<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.1" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>avantifontana.com &#187; Asia-Pacific</title>
	<link>http://www.avantifontana.com/blog</link>
	<description>IM-ED™ Coaching Blog</description>
	<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 15:05:48 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>The Most Innovative Companies 2010</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2010/03/09/the-most-innovative-companies-2010/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2010/03/09/the-most-innovative-companies-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 12:34:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Asia-Pacific]]></category>

		<category><![CDATA[Avanti Fontana on Q]]></category>

		<category><![CDATA[Center Innovation Studies]]></category>

		<category><![CDATA[English]]></category>

		<category><![CDATA[Events]]></category>

		<category><![CDATA[IM-ED-GSA]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Management Innovation]]></category>

		<category><![CDATA[South-East Asia]]></category>

		<category><![CDATA[coaching]]></category>

		<category><![CDATA[education development]]></category>

		<category><![CDATA[engaged scholarship]]></category>

		<category><![CDATA[innovation management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/2010/03/09/the-most-innovative-companies-2010/</guid>
		<description><![CDATA[Fast Company Magazine pada Maret 2010 menerbitkan daftar 50 perusahaan paling inovatif. Rangking pertama: Facebook. Berikut daftar 10 yang pertama.
#1 Facebook
#2 Amazon
#3 Apple
#4 Google
#5 Huawei
#6 First Solar
#7 PG&#038;E
#8 Novartis
#9 Walmart
#10 HP
Pengelompokkan rangking juga dilakukan berdasarkan kelompok industri. Siapa 10 yang pertama dari setiap industri berikut ini?
Advertising &#038; Marketing, Architecture
Biotech
China
Consumer Electronics, Consumer Products
Defense, Design
Energy
Fashion, Food
Gaming
Health Care
India
Media, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Fast Company Magazine</em> pada Maret 2010 menerbitkan daftar 50 perusahaan paling inovatif. Rangking pertama: Facebook. <a href="www.fastcompany.com/mic/2010">Berikut daftar 10 yang pertama</a>.</p>
<p>#1 Facebook<br />
#2 Amazon<br />
#3 Apple<br />
#4 Google<br />
#5 Huawei<br />
#6 First Solar<br />
#7 PG&#038;E<br />
#8 Novartis<br />
#9 Walmart<br />
#10 HP</p>
<p>Pengelompokkan rangking juga dilakukan berdasarkan kelompok industri. Siapa 10 yang pertama dari setiap industri berikut ini?<br />
<em>Advertising &#038; Marketing, Architecture<br />
Biotech<br />
China<br />
Consumer Electronics, Consumer Products<br />
Defense, Design<br />
Energy<br />
Fashion, Food<br />
Gaming<br />
Health Care<br />
India<br />
Media, Mobile<br />
Music<br />
Retail<br />
Sports<br />
Technology, Transportation<br />
Web</em></p>
<p>Menarik untuk mengetahui lebih lanjut mengapa mereka masuk dalam kategori perusahaan inovatif. Pertanyaannya: mengapa mereka inovatif? Di mana saja poin-poin inovasi mereka? Apa yang kita (baca: perusahaan-perusahaan di Indonesia) dapat pelajari dari apa yang telah mereka lakukan? Hal apa lagi yang menarik untuk disimak dan dipelajari dari 50 perusahaan paling inovatif tersebut? Avanti Fontana dan Narasumber akan mengulasnya lebih jauh dalam beberapa episode Program Avanti Fontana on QTV.</p>
<p>Salah satu contoh adalah Facebook: </p>
<blockquote><p><a href="http://www.fastcompany.com/mic/2010/profile/facebook"><<Why it's innovative: With more than 350 million users around the world, Facebook has become the platform of choice for major brands, political candidates, scrapbooking moms, and social causes looking to "engage" and "converse" rather than merely "sell" and "broadcast.">></a> [http://www.fastcompany.com/mic/2010/profile/facebook]</p></blockquote>
<p><em>Program Avanti Fontana on Q ditayangkan setiap Selasa jam 22-23 WIB di QTV/FirstMedia dan dapat diakses via www.qchannel.tv.</em></p>
<p><strong>Avanti Fontana on Q</strong><br />
<em>Creating Value through Innovation</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2010/03/09/the-most-innovative-companies-2010/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Avanti Fontana on Q</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2010/02/16/avanti-fontana-on-q/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2010/02/16/avanti-fontana-on-q/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Feb 2010 14:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Asia-Pacific]]></category>

		<category><![CDATA[Avanti Fontana on Q]]></category>

		<category><![CDATA[Books]]></category>

		<category><![CDATA[Center Innovation Studies]]></category>

		<category><![CDATA[coaching]]></category>

		<category><![CDATA[education development]]></category>

		<category><![CDATA[Creating Value through Innovation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/2010/02/16/avanti-fontana-on-q/</guid>
		<description><![CDATA[Kita hidup di zaman inovasi. Semakin banyak pihak menyadari pentingnya inovasi. Semakin banyak pihak mendorong agar inovasi dipraktikkan. Semakin mantaplah laju gerakan inovasi nasional. Ini terjadi pada situasi di mana sudah banyak inovasi terjadi. Pun banyak juga yang belum terjadi. Mengapa?
Banyak invensi muncul. Berapa persen yang menjadi barang atau jasa atau layanan atau produk inovatif? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita hidup di zaman inovasi. Semakin banyak pihak menyadari pentingnya inovasi. Semakin banyak pihak mendorong agar inovasi dipraktikkan. Semakin mantaplah laju gerakan inovasi nasional. Ini terjadi pada situasi di mana sudah banyak inovasi terjadi. Pun banyak juga yang belum terjadi. Mengapa?</p>
<p>Banyak invensi muncul. Berapa persen yang menjadi barang atau jasa atau layanan atau produk inovatif? Dari seratus persen jumlah inovasi yang berhasil, lebih dari 90 persen merupakan inovasi yang dilakukan oleh orang-orang awam, orang-orang biasa dengan prinsip-prinsip tertentu, praktik dan disiplin inovasi tertentu. Berita baiknya: Inovasi dan kemampuan-kemampuan pendukungnya dapat kita pelajari, kita latih, dan kita pertajam.</p>
<p>Bagaimana sistematika praktik inovasi? Prinsipnya? Disiplinnya? Apa yang perlu lebih dahulu dilakukan untuk mendukung keberhasilan inovasi secara sosial dan ekonomi? Apa indikator keberhasilan inovasi? Apa perbedaan inovasi dari kreativitas? Bagaimana dengan invensi? Lalu apa itu <em>knowledge management</em>? Dan seterusnya, kita bisa melanjutkannya dengan pertanyaan lain yang mengambil perhatian lebih banyak pihak. Bagaimana memasyarakatkan inovasi sehingga menjadi hal yang normal dalam kehidupan organisasi, komunitas, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia?</p>
<p>Bila melihat Indeks Inovasi Global (IIG) Indonesia (INSEAD 2009), Indonesia rangking 49 dari 130 negara. Indonesia perlu memberi lebih banyak perhatian terhadap pembangunan lingkungan inovasi kondusif. Lingkungan inovasi kondusif mendorong dan menunjang pelaksanaan inovasi. Dan tentunya menjadi dasar keberhasilan inovasi, yang dalam GII ditunjukkan dalam tiga pilar output inovasi (<em>Knowledge, Competitiveness, Wealth</em>). </p>
<p>Menurut <em>Global Innovation Index</em> (INSEAD 2009) lima pilar input inovasi yang menyusun lingkungan inovasi yang kondusif: dukungan institusi dan kebijakan, kapasitas manusia karya Indonesia yang tinggi, infrastruktur memadai, serta pasar dan bisnis yang bersih dan berwibawa. </p>
<p>Perhatikan 10 besar perekonomian terinovatif (GII, INSEAD 2009): Amerika Serikat, Jerman, Swedia, Inggris, Singapura, Korea Selatan, Swiss, Denmark, Jepang, dan Belanda. China rangking 37 dengan indeks daya saing yang tinggi, jauh melebihi Indonesia. </p>
<p>Bagaimana meningkatkan kapasitas inovasi Indonesia? </p>
<p>Jika inovasi merupakan pencapaian secara sosial dan ekonomi maka keberhasilan input dan proses inovasi merupakan kondisi yang perlu bahkan harus ada. Mari bersama kita tingkatkan inovasi Indonesia dan inovasi-inovasi di Indonesia.</p>
<p>AFQ bertujuan menginspirasi Indonesia Berinovasi, suatu gerakan inovasi nasional ber-tagline 40 buku dengan tayangan-tayangan interaktif bersama para pemerhati, praktisi, wirausaha, pemilik dan/atau pimpinan usaha, pendidik dan peneliti dalam bidang-bidang yang relevan, terkait inovasi, dan solusi atas problematika inovasi. </p>
<p>Para narasumber AFQ memberi kontribusi pengalaman dan pemikiran tentang bagaimana membangun inovasi Indonesia. AFQ memberi paparan inovasi yang dikaitkan dengan tema, isu dan/atau problematikan inovasi yang terkait. Ini penting untuk mendukung aktivitas penciptaan nilai dalam lingkup individu, organisasi, komunitas atau sosietas di Negara Kesatuan Republik Indonesia. </p>
<p>Sebagai <em>host</em> AFQ, Avanti Fontana aktif memfasilitasi forum-forum inovasi dan melakukan <em>coaching</em> (pendampingan) inovasi bagi para inovator dan tim-tim inovasi. Penulis <em>Innovate We Can! Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai</em> (Gramedia Widiasarana Indonesia 2009); ia memfasilitasi proses mengajar-belajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia untuk peserta tingkat sarjana dan pascasarjana. Ia aktif memasyarakatkan inovasi dalam tulisan, <em>workshop</em>, <em>seminar</em> dan <em>talk show</em>. </p>
<p>Selamat menyaksikan Avanti Fontana on Q!<br />
<em>Sampaikan pada blog ini komentar, pertanyaan atau catatan atas episode &#8220;Gerakan Inovasi Nasional&#8221; yang Anda saksikan. Sepuluh pertama memperoleh buku: <em>Innovate We Can!</em> yang ditulis oleh Avanti Fontana (Gramedia Widiasarana Indonesia 2009) dan <em>Knowledge Sharing Meningkatkan Kinerja Layanan Perusahaan</em> yang ditulis oleh Manerep Pasaribu (Elex Media Komputindo 2009). </em><br />
©2010 Avanti Fontana - All Rights Reserved</p>
<p>Salam Inovasi!<br />
Tim <em>Avanti Fontana on Q</em></p>
<p><a href="http://www.qchannel.tv">Video on Demand</a></p>
<p><a href="http://www.kalbe.co.id/community-relation/20478/saksikan-dr-boenjamin-setiawan-di-qtv-selasa-16-februari-2010.html">Lihat Promosi Program</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2010/02/16/avanti-fontana-on-q/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Design Thinking</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2010/01/19/design-thinking/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2010/01/19/design-thinking/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jan 2010 14:44:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Asia-Pacific]]></category>

		<category><![CDATA[Books]]></category>

		<category><![CDATA[Center Innovation Studies]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Management Innovation]]></category>

		<category><![CDATA[South-East Asia]]></category>

		<category><![CDATA[coaching]]></category>

		<category><![CDATA[coaching for innovation]]></category>

		<category><![CDATA[education development]]></category>

		<category><![CDATA[innovation in development]]></category>

		<category><![CDATA[innovation management]]></category>

		<category><![CDATA[knowledge management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/2010/01/19/design-thinking/</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah Anda membeli suatu produk, contoh handphone, yang bagus dalam hal kualitas material dan warna dengan fitur teknologi super canggih namun Anda kesulitan dalam menggunakannya karena panduan penggunaan produk kurang user friendly? Pernahkah Anda mendengar atau membaca iklan suatu produk yang menurut Anda produk itu luar biasa, bermanfaat dan harga menarik, bahkan Anda pernah melihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pernahkah Anda membeli suatu produk, contoh <em>handphone</em>, yang bagus dalam hal kualitas material dan warna dengan fitur teknologi super canggih namun Anda kesulitan dalam menggunakannya karena panduan penggunaan produk kurang <em>user friendly</em>? Pernahkah Anda mendengar atau membaca iklan suatu produk yang menurut Anda produk itu luar biasa, bermanfaat dan harga menarik, bahkan Anda pernah melihat rekan atau tetangga Anda atau teman seperjalanan Anda menggunakannya? &#8220;Wah, andaikan aku memilikinya,&#8221; seru Anda dalam hati. Namun apa daya, produk itu tidak mudah ditemui atau tidak mudah Anda peroleh karena situasi kondisi yang Anda miliki dan hadapi tidak memungkinkan. Ada ruang dan waktu tertentu yang Anda tidak atau belum peroleh atau akses sehingga membuat Anda sulit berinteraksi dengan produk atau dengan tempat-tempat penjualannya. Pernahkah Anda mendesain suatu sistem kerja dalam suatu perusahaan atau di lingkungan masyarakat tetapi tidak semua karyawan atau tidak semua masyarakat komunitas tersebut menggunakannya? Pernahkah kita bertanya mengapa dan mengapa?</p>
<p>Lagi, penulis terinspirasi oleh tulisan-tulisan dan pemikiran-pemikiran tentang desain, antara lain lihat www.ideo.com. Para desainer sebelumnya atau biasanya hanya berfokus pada bagaimana memperbaiki tampak atau tampilan produk (barang atau jasa) dan fungsi serta berfungsinya barang atau jasa. Menariknya, akhir-akhir ini, pemikiran desain menjadi kepedulian organisasi bisnis dan organisasi nirlaba bahkan pemerintahan. Pemikiran ini menuntut organisasi, segala jenis organisasi dan individu-individu yang bertugas atau bermisi melakukan desain apapun, produk, kebijakan, peraturan, dan lain-lain untuk melihat lebih jauh dan dalam konteks, kebiasaan, asumsi, serta budaya di mana produk digunakan, kebijakan diterapkan, peraturan dilaksanakan. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi kegagalan produk, bahkan untuk meniadakan kegagalan produk, apapun itu produknya.</p>
<p>Berpikir desain adalah berpikir sistemik bahwa keberhasilan penggunaan produk atau penerapan kebijakan tidak terlepas dari keberhasilan desainer dalam menerjemahkan kebutuhan klien, konsumen atau pelanggan atau pemangku kepentingan dan melakukan uji coba - uji coba dalam bentuk prototipe sebelum meluncurkan secara final produk, apapun itu produknya.</p>
<p>Inti berpikir desain adalah (1) berpikir, melihat, mendengar apa kebutuhan konsumen, klien, atau pelanggan. Desainer terlibat dalam proses penemuan kebutuhan hingga serinci mungkin, tak ada yang terlewat. Semua suara didengar! Dan (2) berani membuat prototipe-prototipe dari produk yang desainer buat, sesuai dengan kebutuhan konsumen, pelanggan atau klien. Dalam prosesnya, walaupun (1) sudah terpenuhi, setelah (2) dilakukan, perubahan masih bisa terjadi karena rupanya dari hasil studi mendalam di lapangan, desainer masih banyak mengandalkan pada asumsi, rumus-rumus baku dengan solusi baku tertentu. Dalam realitasnya, hal itu jarang terjadi. Konteks budaya dan pengalaman personal individu atau organisasi menentukan berhasil tidaknya produk, apapun itu produknya.</p>
<p>Berita baiknya adalah kita semua diundang untuk menjadi desainer yang berpikir desain (<em>design thinking</em>).</p>
<p><a href="http://www.ideaconnection.com/innovation.html?partner=13966&#038;bnr=20" title="Corporate Solutions"><img src="http://www.ideaconnection.com/images/af13966/corporate-solutions.jpg" alt="Corporate Solutions"></a></p>
<p>Salam Inovator!<br />
Avanti Fontana</p>
<p>Links:<br />
www.imedcoaching.com<br />
www.avantifontana.com/blog<br />
innovatewecan.wordpress.com<br />
facebook.com/avanti.fontana<br />
linked-in<br />
avantifontana[at]gmail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2010/01/19/design-thinking/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Co-Innovation</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2010/01/12/co-innovation/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2010/01/12/co-innovation/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 04:57:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Asia-Pacific]]></category>

		<category><![CDATA[Center Innovation Studies]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Management Innovation]]></category>

		<category><![CDATA[South-East Asia]]></category>

		<category><![CDATA[coaching]]></category>

		<category><![CDATA[coaching for innovation]]></category>

		<category><![CDATA[education development]]></category>

		<category><![CDATA[innovation in development]]></category>

		<category><![CDATA[innovation management]]></category>

		<category><![CDATA[knowledge management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/2010/01/12/co-innovation/</guid>
		<description><![CDATA[Setelah kita memasuki hampir dua minggu tahun 2010 ini, saya melihat banyak sekali perkembangan inovasi baik praktik dan konsep hampir di segala penjuru dunia. Untuk itu, pembaca budiman dapat meng-klik Google, YouTube, Yahoo, Facebook, atau situs-situs perusahaan paling inovatif di dunia. 
Saat saya meng-klik www.ideo.com, mata saya terpana oleh satu judul berita Ideo and Ford [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah kita memasuki hampir dua minggu tahun 2010 ini, saya melihat banyak sekali perkembangan inovasi baik praktik dan konsep hampir di segala penjuru dunia. Untuk itu, pembaca budiman dapat meng-klik Google, YouTube, Yahoo, Facebook, atau situs-situs perusahaan paling inovatif di dunia. </p>
<p>Saat saya meng-klik www.ideo.com, mata saya terpana oleh satu judul berita <em>Ideo and Ford Co-Innovate</em>. Membaca ini mengingatkan saya pada salah satu prinsip inovasi yang diluncurkan oleh Prahalad &#038; Krishnan dalam buku <em>The New Age of Innovation</em>. Prinsip itu adalah <em>value co-creation</em>. Kalau value <em>co-creation</em> merujuk pada proses inovasi yang melibatkan konsumen dari sejak awal proses inovasi; kerja sama antara produsen dan konsumen. <em>Co-innovation</em> merujuk pada kerja sama antara dua produsen atau lebih. <em>Value co-creation</em> pun dapat dan sudah sepantasnya diterapkan pada praktik <em>co-innovation</em>.</p>
<p>Sudah sejauh manakah kita menerapkan konsep penciptaan nilai secara bersama antara produsen (Anda, saya, kita) dan konsumen produk, barang atau jasa yang kita hasilkan?</p>
<p>Sudah sejauh manakah kita melakukan ko-inovasi dengan partner-partner bisnis kita?</p>
<p>Dalam konteks inovasi di lingkungan kerja atau di lingkungan masyarakat, <em>value co-creation</em> dan <em>co-innovation</em> bisa dan selayaknya diterapkan antar individu, antar komunitas, antar pemimpin dan yang dipimpin, dalam paradigma kolaborasi dan mitra kerja sama inovasi.</p>
<p>Selamat berinovasi.<br />
Avanti Fontana</p>
<p><a href="http://www.ideaconnection.com/innovation.html?partner=13966&#038;bnr=20" title="Corporate Solutions"><img src="http://www.ideaconnection.com/images/af13966/corporate-solutions.jpg" alt="Corporate Solutions"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2010/01/12/co-innovation/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Innovating</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2009/11/08/innovating/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2009/11/08/innovating/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Nov 2009 15:19:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Asia-Pacific]]></category>

		<category><![CDATA[Books]]></category>

		<category><![CDATA[Center Innovation Studies]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Management Innovation]]></category>

		<category><![CDATA[South-East Asia]]></category>

		<category><![CDATA[Syllabus and Module]]></category>

		<category><![CDATA[coaching]]></category>

		<category><![CDATA[coaching for innovation]]></category>

		<category><![CDATA[education development]]></category>

		<category><![CDATA[innovation in development]]></category>

		<category><![CDATA[innovation management]]></category>

		<category><![CDATA[knowledge management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/2009/11/08/innovating/</guid>
		<description><![CDATA[Kompas 8 November 2009 memuat tinjauan buku Innovate We Can! Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai (Individu, Organisasi, Masyarakat). Tinjauan buku itu ditulis oleh Phillip Gobang dari CIS.
Avanti Fontana menambahkan apa yang sudah diulas pada tinjauang buku tersebut di atas, yaitu bahwa salah satu prinsip inovasi yang tidak boleh diabaikan adalah &#8220;melakukan inovasi sekarang juga.&#8221; Jangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/08/02543331/saatnya.berinovasi"><em>Kompas</em> 8 November 2009</a> memuat tinjauan buku <em>Innovate We Can! Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai (Individu, Organisasi, Masyarakat)</em>. Tinjauan buku itu ditulis oleh Phillip Gobang dari CIS.</p>
<p>Avanti Fontana menambahkan apa yang sudah diulas pada tinjauang buku tersebut di atas, yaitu bahwa salah satu prinsip inovasi yang tidak boleh diabaikan adalah &#8220;melakukan inovasi sekarang juga.&#8221; Jangan tunda, Jangan melakukannya untuk masa depan. Melakukan inovasi secara berkesinambungan dalam organisasi dan komunitas berarti melakukan proses penciptaan nilai dan menciptakan nilai secara terus-menerus. Ini ditandai dengan adanya perubahan-perubahan drastis dalam hubungan antara NILAI MANFAAT yang konsumen/pengguna/masyarakat pada umumnya akan peroleh dan NILAI MONETER atau harga/uang yang konsumen atau pengguna atau masyarakat akan keluarkan. Tingkat tertinggi nilai manfaat yang dipersepsikan konsumen merupakan tingkat harga paling tinggi yang konsumen mau bayar. Semakin besar nilai manfaat dibandingkan dengan harga yang konsumen harus atau perlu bayar, semakin baik, tidak saja dari sudut pandang konsumen/pengguna/masyarakat tetapi juga dari sudut produsen. Besarnya nilai manfaat untuk konsumen menurut persepsi konsumen menjadi proksi besarnya surplus produsen. Sepanjang produsen memperoleh surplus produsen dan sepanjang konsumen mempersepsikan surplus konsumen, semakin langgenglah proses penciptaan nilai dalam inovasi.* <em>Info on Corporate Seminar and Training &#038; Workshop on Innovation, Please Contact buku[at]avantifontana[dot]com or call/SMS 081310182099. Thank You</em>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2009/11/08/innovating/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Daya tarik apa yang Anda miliki saat berbicara tentang INOVASI dan melaksanakan INOVASI?</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2009/10/12/daya-tarik-apa-yang-anda-miliki-saat-berbicara-tentang-inovasi-dan-melaksanakan-inovasi/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2009/10/12/daya-tarik-apa-yang-anda-miliki-saat-berbicara-tentang-inovasi-dan-melaksanakan-inovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 07:52:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Asia-Pacific]]></category>

		<category><![CDATA[Center Innovation Studies]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Management Innovation]]></category>

		<category><![CDATA[South-East Asia]]></category>

		<category><![CDATA[coaching]]></category>

		<category><![CDATA[education development]]></category>

		<category><![CDATA[innovation management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/2009/10/12/daya-tarik-apa-yang-anda-miliki-saat-berbicara-tentang-inovasi-dan-melaksanakan-inovasi/</guid>
		<description><![CDATA[Kerap ada pendapat bahwa inovasi hanya menjadi perhatian Top Management. &#8220;Inovasi banyak dilakukan tetapi belum disadari betul esensinya,&#8221; demikian kata sebagian manajer yang saya temui. Sebagian lagi mengkombinasikan antara praktik-praktik kreatif dan kreativitas dengan inovatif dan inovasi. Dan menariknya, pada era dewasa ini, paradigma &#8220;pelanggan adalah raja&#8221; begitu mendominasi kehidupan bisnis. Tapi berapa yang betul-betul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>K</strong>erap ada pendapat bahwa inovasi hanya menjadi perhatian <em>Top Management</em>. &#8220;Inovasi banyak dilakukan tetapi belum disadari betul esensinya,&#8221; demikian kata sebagian manajer yang saya temui. Sebagian lagi mengkombinasikan antara praktik-praktik kreatif dan kreativitas dengan inovatif dan inovasi. Dan menariknya, pada era dewasa ini, paradigma &#8220;pelanggan adalah raja&#8221; begitu mendominasi kehidupan bisnis. Tapi berapa yang betul-betul telah mengadopsinya dalam praktik-praktik bisnis perusahaan dan dalam produk serta layanan mereka? Ada banyak lagi persepsi atau pendapat tentang inovasi dan praktiknya yang seakan mengecilkan arti inovasi itu sendiri. Jangan terjebak pada pendapat/persepsi itu sebelum Anda melihat sesi <strong><em>Marketing &#038; Sales Innovation to Win Your Business</em></strong>. </p>
<p>Tentu Anda ingat salah satu prinsip kelola inovasi, yaitu pentingnya INTEGRASI dalam organisasi, yang saya bahas dengan unik pada buku <em>Innovate We Can!&#8230;Inovasi dan Penciptaan Nilai</em> (Gramedia Widiasarana Indonesia 2009), </p>
<p>Sesi yang disebut di atas adalah <em>Marketing &#038; Sales Innovation to Win Your Business</em> yang saya fasilitasi.<br />
Waktu: 21 Okt 2009 mulai jam 15. Tempat: FX Lifestyle Mall F5, Senayan JKT.<br />
Sesi juga diisi dengan <em>Sharing Moment</em> yang sangat <em>up-to-date</em> dan praktikal, oleh praktisi/inovator berpengalaman dan berperspektif inovasi.<br />
<strong>Info Registrasi: Rudi Rumengan 021-80887547 (direct), humas[at]suarapembaruan[dot]com</strong><br />
Anda dapat merujukkan info ini kepada Rekan/Kolega/Manajer/Pimpinan Perusahaan Anda. Acara ini sangat cocok untuk hadirin para pelaku bisnis, manajer pemasaran dan sales, serta pihak-pihak yang terkait dgn pemasaran dan penjualan.</p>
<p>Terima Kasih &#038; Salam Inovator!<br />
Avanti Fontana<br />
<em>Penulis buku Innovate We Can! Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai (Grasindo 2009), fasilitator &#038; coach untuk inovasi, peneliti &#038; fasilitator pengajaran Strategi &#038; Inovasi pada Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.</em></p>
<p><strong>NB. Perhatikan juga info/iklan acara ini di harian <em>Suara Pembaruan</em> dan <em>Investor Daily</em> tanggal 8-20 Oktober 2009.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2009/10/12/daya-tarik-apa-yang-anda-miliki-saat-berbicara-tentang-inovasi-dan-melaksanakan-inovasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Collaborative Advantage</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2009/10/04/collaborative-advantage/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2009/10/04/collaborative-advantage/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 03:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Asia-Pacific]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[Management Innovation]]></category>

		<category><![CDATA[South-East Asia]]></category>

		<category><![CDATA[coaching]]></category>

		<category><![CDATA[education development]]></category>

		<category><![CDATA[innovation management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/2009/10/04/collaborative-advantage/</guid>
		<description><![CDATA[Makna Temporer dari Sustainable Competitive Advantage
Avanti Fontana
“Bila Anda mendengar seseorang berkata kepada Anda : “kalau kamu bisa membuat dirimu sendiri menjadi orang yang paling baik dari keutuhan dirimu yang sesungguhnya, maka kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan apakah orang lain lebih baik dari kamu atau tidak,“ Apakah hal itu terdengar masuk akal di telinga Anda?” (Dadang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>Makna Temporer dari <em>Sustainable Competitive Advantage</em></p></blockquote>
<p>Avanti Fontana</p>
<p>“Bila Anda mendengar seseorang berkata kepada Anda : “kalau kamu bisa membuat dirimu sendiri menjadi orang yang paling baik dari keutuhan dirimu yang sesungguhnya, maka kamu tidak perlu lagi mengkhawatirkan apakah orang lain lebih baik dari kamu atau tidak,“ Apakah hal itu terdengar masuk akal di telinga Anda?” (Dadang Kadarusman dalam e-booknya berjudul <em>Belajar Sukses kepada Alam</em>, halaman 18) </p>
<p>Hal yang sama berlaku pula untuk perusahaan atau organisasi bisnis,… untuk menjadi yang terbaik dengan mengolah keunikan-keunikan dan kebaikan-kebaikan serta talenta-talenta yang organisasi miliki, secara utuh, seperti Prof Kim (<em>Blue Ocean Strategy</em>) menulis, kompetisi menjadi tidak relevan. Dan menurut saya, kolaborasi menjadi praktik yang relevan diterapkan di mana-mana. Dan kita akan banyak berbicara dan berupaya untuk memperoleh yang namanya <em>Collaborative Competitive Advantage</em>. [AF]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2009/10/04/collaborative-advantage/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>National Innovation System: ABG-Community, Message from Insightful Conversation</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2009/09/01/national-innovation-system-abg-community-a-message-from-our-insightful-conversation/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2009/09/01/national-innovation-system-abg-community-a-message-from-our-insightful-conversation/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 17:57:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Articles]]></category>

		<category><![CDATA[Asia-Pacific]]></category>

		<category><![CDATA[Books]]></category>

		<category><![CDATA[Center Innovation Studies]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[South-East Asia]]></category>

		<category><![CDATA[innovation management]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/2009/09/01/national-innovation-system-abg-community-a-message-from-our-insightful-conversation/</guid>
		<description><![CDATA[Pendekatan ABG-C untuk Membangun Sistem Inovasi Bangsa
Avanti Fontana
Penulis Innovate We Can! Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai (Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)
Berbincang dengan pendiri Kalbe Farma, Dr Boenjamin Setiawan, yang biasa dipanggil dengan sebutan akrab Dr Boen, tidak lepas dari semangat untuk berinovasi pada berbagai tingkat kegiatan, tidak hanya di perusahaan atau organisasi bisnis (Business) pada umumnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>Pendekatan ABG-C untuk Membangun Sistem Inovasi Bangsa</strong></p></blockquote>
<p>Avanti Fontana<br />
Penulis <em>Innovate We Can! Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai</em> (Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)</p>
<p><strong>B</strong>erbincang dengan pendiri Kalbe Farma, Dr Boenjamin Setiawan, yang biasa dipanggil dengan sebutan akrab Dr Boen, tidak lepas dari semangat untuk berinovasi pada berbagai tingkat kegiatan, tidak hanya di perusahaan atau organisasi bisnis (<em>Business</em>) pada umumnya, tetapi juga pada tingkat pendidikan tinggi (<em>Academic</em>), pemerintah (<em>Government</em>), dan komunitas (<em>Community</em>). Dr Boen menekankan bahwa dalam membangun Sistem Inovasi Nasional, atau saya sebut dengan Sistem Inovasi Bangsa (SIB), tiga pelaku saja belumlah cukup, komunitas harus diikutsertakan dan menjadi pusat perhatian. </p>
<p>Saya (untuk selanjutnya disebut penulis di sini) bisa katakan bahwa komunitas menjadi <em>input</em> sekaligus <em>output</em> proses inovasi itu sendiri. Seperti layaknya lingkungan sebuah organisasi bisnis, dalam suatu sistem terbuka, ia menjadi input faktor produksi untuk perusahaan dan sekaligus menampung atau menerima output dari perusahaan dalam bentuk produk, barang atau jasa. Komunitas menjadi unit analisis dalam pembicaraan dan penerapan SIB. Pada situasi ini, tepatlah bila penulis mendefinisikan inovasi sebagai kesuksesan ekonomi dan sosial berkat diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara-cara lama dalam mentransformasi <em>input</em> menjadi <em>output</em> sedemikian rupa sehingga menciptakan atau menghasilkan perubahan besar dalam hubungan antara nilai guna dan harga yang ditawarkan kepada konsumen dan/atau pengguna, komunitas, sosietas, lingkungan. </p>
<p>Penulis melihat bahwa semangat berinovasi pada empat tingkatan ini harus dilakukan dalam pola pikir dan tindakan kolaborasi dan kreativitas sosial. Kolaborasi dan kreativitas sosial ada dalam situasi di mana berbagai pihak tersebut saling mempercayai satu sama lain, memiliki integritas, dan tidak ada agenda tersembunyi. Inovasi adalah suatu proses lingkaran keutamaan yang pantang disadap dengan pikiran-pikiran negatif; sekali kita terjebak dalam lubang-lubang negatif, kita malahan meninggalkan lingkaran keutamaan itu (<em>virtuous circle</em>).</p>
<p>Dr Boen menekankan pentingnya membangun dan menumbuh-kembangkan <em>mind-set</em> inovasi di Indonesia. Membangun pola pikir inovasi ini berarti juga membangun dan menyuburkan budaya yang pro inovasi, budaya yang tidak KOMNAM, yaitu tidak KOrupsi, tidak Mempersulit, tidak <em>Not action talk only</em>, tidak <em>Alon-alon asal klakon</em>, dan tidak Minta-minta. </p>
<p>Penulis dalam buku <em>Innovate We Can!</em> menulis pentingnya karakter inovasi yaitu integritas dalam arti tidak ada agenda tersembunyi, jujur, dan dapat dipercaya. Karakter inovasi menjadi kondisi yang penting untuk berinovasi. Paduan kompetensi inovasi dan karakter inovasi yang baik akan mendukung jalannya inovasi pada tingkat mana pun, dalam konteks ABGC dan juga termasuk dalam konteks individu pada ABGC.</p>
<p>Penulis melihat, inovasi bukan kegiatan soliter, penjumlahan kompetensi dan karakter yang pro inovasi akan menghasilkan energi berlipatganda untuk inovasi, dan bayangkan jika energi inovasi ini berada di ABG-C dan dalam tingkat nasional, bangsa-Negara. Kolaborasi keempat pelaku inovasi dibutuhkan untuk membangun SIB. SIB merupakan cara dan pola interaksi antar pelaku inovasi tersebut yang memungkinkan terjadinya proses inovasi secara menyeluruh dalam lingkup nasional yang dimungkinkan oleh adanya sumbangan (<em>input</em> dan/atau umpan balik) dari masing-masing kelompok pelaku inovasi di atas, yang mana masing-masing memiliki kekuatan-kekuatan sendiri dalam rantai nilai inovasinya.</p>
<p>Pada tataran makro, SIB dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembangnya perekonomian dan kehidupan sosial politik budaya bangsa. Inovasi mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan pada umumnya. Sementara pada tataran mikro SIB memfasilitasi proses atau rantai nilai inovasi pada organisasi-organisasi bisnis dan non-bisnis sehingga inovasi yang dilakukan oleh setiap pelaku berkontribusi sebagai input dan output di antara sesama pelaku dalam SIB. Inovasi pada tingkat mikro organisasi meningkatkan minat beli konsumen/masyarakat karena nilai manfaat yang dipersepsikan jauh lebih besar daripada uang yang harus dikeluarkan konsumen/masyarakat, dan pada gilirannya berdampak pada pertumbuhan ekonomi makro dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.* (Bekasi, 31 Agustus 2009)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2009/09/01/national-innovation-system-abg-community-a-message-from-our-insightful-conversation/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Coaching for Innovation</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2008/07/17/coaching-for-innovation/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2008/07/17/coaching-for-innovation/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 19:14:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Asia-Pacific]]></category>

		<category><![CDATA[Center Innovation Studies]]></category>

		<category><![CDATA[English]]></category>

		<category><![CDATA[Events]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[South-East Asia]]></category>

		<category><![CDATA[coaching for innovation]]></category>

		<category><![CDATA[education development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/2008/07/17/coaching-for-innovation/</guid>
		<description><![CDATA[Inovasi sering dikaitkan dengan produk atau temuan baru. Bahkan ada yang menyamakannya dengan invensi, teknologi baru, cara baru, model baru, aroma baru, packaging baru, dan hal lain yang baru-baru.
What is innovation?
Jadi apa itu INOVASI? Inovasi adalah keberhasilan ekonomi berkat adanya pengenalan/penerapan teknologi (cara mentransformasi input menjadi output) atau kombinasi teknologi yang sudah ada dalam mentransformasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inovasi sering dikaitkan dengan produk atau temuan baru. Bahkan ada yang menyamakannya dengan invensi, teknologi baru, cara baru, model baru, aroma baru, packaging baru, dan hal lain yang baru-baru.</p>
<p><em><strong>What is innovation?</strong></em><br />
Jadi apa itu INOVASI? Inovasi adalah keberhasilan ekonomi berkat adanya pengenalan/penerapan teknologi (cara mentransformasi input menjadi output) atau kombinasi teknologi yang sudah ada dalam mentransformasi input menjadi output sehingga menghasilkan perubahan besar atau drastis dalam hubungan antara nilai yang dipersepsikan oleh konsumen atas kegunaan atau manfaat suatu produk (barang/jasa), disebut NILAI GUNA, dan nilai moneter yang ditetapkan produsen dan dikenakan kepada konsumen dan/atau pengguna. </p>
<p><strong><em>Innovation &#038; Coaching</em></strong><br />
Individu, perusahaan (organisasi) bahkan negara perlu, bahkan harus, berinovasi agar mereka dapat menciptakan NILAI GUNA yang semakin besar bagi orang-orang yang dilayani, baik itu dalam hubungan antarmanusia dalam organisasi, dan baik itu bagi konsumen produk-produk yang produsen hasilkan, maupun bagi masyarakat suatu negara RELATIF terhadap nilai moneter barang/jasa yang ditawarkan. Dengan produsen berinovasi, konsumen atau individu, atau masyarakat yang dilayani akan selalu memiliki SURPLUS KONSUMEN. Fokus pada siapa-siapa yang DILAYANI pada akhirnya akan diharapkan membuahkan hasil bagi yang MELAYANI sebagai konsekuensi logis. Yang melayani atau kita sebut produsen akan menikmati NILAI TAMBAH. Inovasi yang berhasil secara ekonomi (yang menariknya merupakan hasil proses inovasi yang sungguh sosial yang melibatkan konsumen sejak dari awal proses penciptaan nilai yang selayaknya didukung oleh ketersediaan sumberdaya berdayaakses global) mampu meningkatkan nilai tambah secara signifikan. Lalu <a href="http://www.avantifontana.com/en/im-ed-coaching-service">apa itu <em>coaching</em></a>?</p>
<p><em><strong>Challenges:</strong></em><br />
Tantangannya:</p>
<blockquote><p>1. Bagaimana berinovasi yang sukses secara ekonomi dan sosial? <em>How do we innovate successfully?</em></p>
<p>2. Bagaimana menatakelola inovasi agar berhasil secara kinerja ekonomi &#038; sosial, tidak saja teknis dan komersial? <em>How do we management our innovation to achieve our goals and purpose?</em></p>
<p>3. Jenis atau dimensi inovasi apa yang sebaiknya dilakukan oleh individu atau perusahaan (organisasi), setelah mempertimbangkan faktor-faktor dalam dan luar dari individu atau organisasi? <strong><em>What types of business innovation should we pursue?</em></strong></p>
<p>4. Iklim organisasi yang bagaimana yang cocok agar inovasi berjalan baik? Dan bagaimana cara menciptakan iklim tersebut bila iklim itu belum dimiliki organisasi? <em><strong>How do we create a conducive innovation climate?</strong></em></p>
<p>5. Apakah perusahaan saya perlu berinovasi? Jika ya, dan belum melakukannya, bagaimana melakukannya? Apa-apa saja yang perlu dilakukan? Apa prinsip INOVASI dan apa prinsip MANAJEMEN INOVASI yang perlu diperhatikan dan dijalankan? <em>Do we need to innovate? What to do to innovate? What principles should we respect?</em></p>
<p>6. Bagaimana menghasilkan produk berkualitas dengan biaya murah? <em>How do we create high quality products and low cost?</em> </p></blockquote>
<p>Pertanyaan 1-6 tersebut barulah beberapa tantangan yang dapat dihadapi individu atau organisasi dalam melakukan inovasi.</p>
<p>Saya menyarankan pendekatan <em>Coaching for Innovation</em> (<em>COFI</em>) untuk diterapkan dalam menjawab tantangan-tantangan dalam perusahaan atau organisasi dan individu melakukan inovasi. Ia juga pendekatan yang dapat digunakan untuk pendampingan dalam mempertahankan dan meningkatkan kinerja inovasi yang sudah baik dalam organisasi dengan klien individual atau klien kelompok. </p>
<p><em>COFI</em> artinya menggunakan pendekatan <em>COACHING</em> oleh seorang atau lebih Coach Profesional; status coach profesional ini bisa berada dalam organisasi sebagai salah satu manajer dalam organisasi yang melakukan inovasi atau ia berada di luar organisasi. Sesi-sesi coaching dilakukan untuk mendampingi klien organisasi atau klien individu dalam mencapai target organisasi dan individu. </p>
<p><em>COFI</em> perlu dilakukan dengan diawali oleh pelaksanaan <em>DISCOVERY SESSION(S)</em> dalam pertemuan antara klien dan coach profesional dan disusul oleh sesi-sesi <em>COACHING</em> yang bersifat diagnosis; disesuaikan dengan kebutuhan klien. </p>
<p>Dalam praktiknya, <em>COFI</em> dapat dikombinasi dengan jenis coaching yang lain. Hal ini merupakan hasil pertemuan dan kesepakatan antara klien dan coach pada saat <em>Discovery Session(s)</em> dan perkembangan setelah sesi tersebut.</p>
<p>Sesi-sesi <em>Coaching for Innovation</em> saya namakan <strong>IM-ED™ SESSIONS</strong> <strong>Tipe A-B-C-D</strong>. Versi Beta IM-ED™ SESSIONS Tipe A-B-C-D</strong> dirancang pada tahun 2008. Sesi Tipe-A-B-D diberikan dalam bentuk <em>workshop sessions</em> berdurasi 60 menit per sesi. Sesi Type-C (<em>MAIN MENU COACHING FOR INNOVATION</em>) diberikan dalam bentuk <em>coaching sessions</em> berdurasi 45 menit per sesi. Sesi Tipe A-B-C-D dilayani oleh <em>Certified Facilitators &#038; Certified Coaches</em>.</p>
<p>Coach dapat menyarankan kepada klien organisasi/korporat atau individu untuk mengikuti sesi-sesi Tipe-A (<em>warming-up or review sessions for Coaching for Innovation</em>) sejauh dibutuhkan. Analisis kebutuhan dilakukan saat <em>Discovery Session(s)</em>. </p>
<p>Dalam pendekatan <em>Coaching for Innovation</em> ini, klien wajib mengikuti sesi Tipe-B dan Tipe-C, sedangkan opsional untuk sesi Tipe-A dan Tipe-D. </p>
<blockquote><p><a href="http://www.avantifontana.com/executive-leader-access">Type-A: Introductory Sessions</a></p></blockquote>
<p>A1. Coaching for Innovation &#038; Management<br />
A2. Coaching for Education &#038; Development<br />
A3. Principles of Innovation<br />
A4. Innovation Management<br />
A5. Principles of Innovation Management<br />
A6. Innovation Value Chain<br />
A7. Business Innovation<br />
A8. Innovation Climate<br />
A9. Innovation Performance </p>
<blockquote><p><a href="http://www.avantifontana.com/executive-leader-access">Type-B: Diagnostic Sessions</a></p></blockquote>
<p>Dalam sesi tipe ini, klien didampingi coach dan fasilitator melakukan diagnosis kebutuhan dan ruanglingkup <em>Coaching for Innovation</em> sehingga pada akhir sesi-sesi Tipe-B klien bersama coach dapat memutuskan target pelaksanaan <em>Coaching for Innovation</em>.</p>
<blockquote><p><a href="http://www.avantifontana.com/executive-leader-access">Type-C: Coaching for Innovation</a></p></blockquote>
<p>Ini adalah Menu Utama dalam <em>Coaching for Innovation</em>; menindaklanjuti hasil sesi Tipe-B.</p>
<blockquote><p><a href="http://www.avantifontana.com/executive-leader-access">Type D: Education &#038; Development</a></p></blockquote>
<p>Tipe sesi ini dirancang untuk formasi Certified Coach. Pelaksanaannya melibatkan institusi resmi penyelenggara formasi <em>Certified Coach</em>.</p>
<p>Avanti Fontana<br />
<em>Coach for Innovation</em></p>
<p><a href="http://www.certifiedcoach.org/" target="_blank"><img src="http://certifiedcoach.org/images/member2008.jpg" width="250" height="63" border="0"></a></p>
<blockquote><p><strong><a href="http://www.avantifontana.com/contact-us/">Apakah deskripsi di atas cukup jelas menggambarkan <em>Coaching for Innovation</a></em>?</strong></p></blockquote>
<p>Mengingat perlunya bekerjasama lintasfungsi dan disiplin, <strong>IM-ED&trade; Coaching</strong> menyambut para coach dan fasilitator profesional yang berminat untuk <a href="http://www.avantifontana.com/contact-us/">bergabung menjadi <strong>Mitra IM-ED&trade; Coaching</strong></a>.</p>
<p><!--Begin---><br />
<A href="http://www.choice-online.com/"><IMG height=196 src="http://choice-online.com/images/covers/current-cov.jpg" width=150 border=0></A><br />
<br /><img src="http://www.profcs.com/app/?Imp=2496468" width="0" height="0" border="0"><br />
<!--End---></p>
<blockquote><p>Articles on Innovation published in <em><a href="http://www.hbr.org/">Harvard Business Review</a></em> (<em>HBR</em>), e.g.,</p></blockquote>
<p>Leonard, D., &#038; Rayport, J.F. Spark innovation through empathic design. <em>HBR</em> November-December, 1997. (&#8221;What customers can’t tell you might be just what you need to develop successful new products.&#8221;)</p>
<p>Hargadon, A., &#038; Sutton, R.I. Building an innovation factory. <em>HBR</em> May-June, 2000. (&#8221;The best innovators aren’t lone geniuses. They’re people who can take an idea that’s obvious in one context and apply it in not-so-obvious ways to a different context. The best companies have learned to systematize that process.&#8221;)</p>
<p>Ulwick, A.W. Turn customer input into innovation. <em>HBR</em> January, 2002. (&#8221;Lots of companies ask customers what they’d like to see in new products and services—but they go about it all wrong. A new methodology for capturing customer input promises to galvanize the innovation process.&#8221;)</p>
<p>Drucker, P. The discipline of innovation. <em>HBR</em> August, 2002. (&#8221;In business, innovation rarely springs from a flash of inspiration. It arises from a cold-eyed analysis of seven kinds of opportunities.&#8221;)</p>
<p>Hammer, M. Deep change: How operational innovation can transform your company. <em>HBR</em> April, 2004. (&#8221;Breakthrough innovations in operations—not just steady improvement—can destroy competitors and shake up industries. Such advances don’t have to be as rare as they are.&#8221;)</p>
<p>Moore, G.A. Darwin and the demon: Innovating within established enterprises. <em>HBR</em> July-August, 2004. (&#8221;Innovation comes in many forms—products, processes, marketing, business models, and more. Which kind should you be pursuing? It depends: Where are you in your product category’s life cycle?&#8221;)</p>
<p>Kim, C.W., &#038; Mauborgne, R. Value innovation: The strategic logic of high growth. <em>HBR</em> July-August, 2004. (&#8221;What separates high-growth companies from the pack is the way managers make sense of how they do business.&#8221;)</p>
<p>Hamel, G. The why, what, and how of management innovation. <em>HBR</em> February, 2006. (&#8221;Over the past century, breakthroughs such as brand management and the divisionalized organization structure have created more sustained competitive advantage than anything that came out of a lab or focus group. Here’s how you can make your company a serial management innovator.&#8221;) </p>
<p>Huston, L., &#038; Sakkab, N. Connect and develop: Inside Procter &#038; Gamble’s new model for innovation. <em>HBR</em> March, 2006. (&#8221;Procter &#038; Gamble’s radical strategy of open innovation now produces more than 35% of the company’s innovations and billions of dollars in revenue.&#8221;)</p>
<p>Kanter, R.M. Innovation: The classic traps. <em>HBR</em> November, 2006. (&#8221;Every few years, innovation resurfaces as a prime focus of growth strategies. And when it does, companies repeat the mistakes they made the last time. Here’s how to avoid those errors.&#8221;)</p>
<p>Christensen, C.M., Kaufman, S.P., &#038; Shih, W.C. Innovation killers: How financial tools destroy your capacity to do new things. <em>HBR</em> January, 2008. (&#8221;Most companies aren&#8217;t half as innovative as their senior executives want them to be (or as their marketing claims suggest they are). What&#8217;s stifling innovation? There are plenty of usual suspects,..&#8221;)</p>
<p>Iyer, B., &#038; Davenport, T.H. Reverse engineering Google&#8217;s innovation machine. <em>HBR</em> April, 2008. (&#8221;Every piece of the business plays a part, every part is indispensable, every failure breeds success, and every success demands improvement.&#8221;)</p>
<p>Bettencourt, L.A., &#038; Ulwick, A.W. The customer-centered innovation map, <em>HBR</em> May, 2008. (&#8221;By thoroughly mapping the job a customer is trying to get done, a company can discover opportunities for breakthrough products and services.&#8221;)</p>
<blockquote><p>Books on Innovation, e.g.,</p></blockquote>
<p>De Meyer, A., &#038; Garg, S. 2005. <em>Inspire to innovate: management and innovation in Asia</em>. Plagrave Macmillan.</p>
<p>Prahalad, C.K., &#038; Krishnan, M.S. 2008. <em>The new age of innovation: Driving cocreated value through global networks</em>. McGraw-Hill.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2008/07/17/coaching-for-innovation/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>In a Quest for Development Paradigms in Indonesia: from Crisis to Catharsis</title>
		<link>http://www.avantifontana.com/blog/2008/05/03/in-a-quest-for-development-paradigms-in-indonesia-from-crisis-to-catharsis/</link>
		<comments>http://www.avantifontana.com/blog/2008/05/03/in-a-quest-for-development-paradigms-in-indonesia-from-crisis-to-catharsis/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 02:30:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Avanti FONTANA</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Asia-Pacific]]></category>

		<category><![CDATA[Center Innovation Studies]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[South-East Asia]]></category>

		<category><![CDATA[education development]]></category>

		<category><![CDATA[innovation in development]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.avantifontana.com/blog/2008/05/03/in-a-quest-for-development-paradigms-in-indonesia-from-crisis-to-catharsis/</guid>
		<description><![CDATA[Prosesi Pembangunan dari Krisis ke Katarsis
Development
Crisis to Catharsis
Inovasi adalah keberhasilan ekonomi karena produsen/pemerintah sebagai penyedia atau penjual barang atau jasa memperkenalkan cara baru dalam mentransformasi input menjadi output atau dalam mengkombinasi cara-cara mentransformasi input menjadi output untuk menciptakan perubahan besar dalam hubungan antara nilai guna (yang dipersepsikan dan dirasakan oleh konsumen, pengguna, masyarakat, rakyat) dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Prosesi Pembangunan dari Krisis ke Katarsis</strong></p>
<blockquote><p>Development<br />
Crisis to Catharsis</p></blockquote>
<p><em>Inovasi adalah keberhasilan ekonomi karena produsen/pemerintah sebagai penyedia atau penjual barang atau jasa memperkenalkan cara baru dalam mentransformasi input menjadi output atau dalam mengkombinasi cara-cara mentransformasi input menjadi output untuk menciptakan perubahan besar dalam hubungan antara nilai guna (yang dipersepsikan dan dirasakan oleh konsumen, pengguna, masyarakat, rakyat) dan nilai moneter (harga) yang ditetapkan oleh produsen/penjual/pemerintah/penyedia barang dan jasa.  Perekonomian berdaya inovasi mampu menghasilkan nilai tambah unik dan substansial bagi konsumen dan/atau masyarakatnya dan akan secara otomatis berimbas positif kepada pelaku-pelaku perekonomian itu sendiri. Kinerja finansial-ekonomi dan kinerja sosial jalan bersama bergandengan tangan.  Maukah Indonesia memanfaatkan peluang pembangunan perekonomian kreatif, berstamina tangguh di tengah gempuran krisis? Maukah Indonesia merespons krisis secara proaktif? Bagaimana caranya?</em></p>
<p>Artikel Sri Adiningsih (<em>Kompas</em> 1/4/08) memberi nada optimis bagi Indonesia dalam menghadapi krisis. Indonesia, negara yang kaya sumberdaya alam dan sumberdaya manusia karya jangan terbenam dalam krisis dan permasalah ekonomi global yang masuk hingga relung-relung perekonomian kehidupan rakyat banyak. Mari kita melihat dengan pandangan mata baru. Ubah cara melihat lingkaran pembangunan bukan dalam lingkaran setan (<em>vicious circle</em>) tetapi dalam lingkaran Tuhan (<em>virtuous circle</em>). Idealnya situasi yang disebut krisis dewasa ini memberi atau membuat kita berefleksi dan menangkap peluang serta memanfaatkannya.</p>
<p>Menurut <em>Kompas</em> (24/3/08 halaman 17), pemerintah memilih untuk tetap membiarkan harga kebutuhan pokok melambung hingga mencapai titik stabil. Sementara itu, pihak yang paling terkena dampaknya akan tetap dilindungi dengan pemberian subsidi. &#8230;Bulog mengendalikan harga beras Rp4.000-Rp6.000 per kilogram. Lonjakan harga-harga di luar harga beras akan diredam dengan berbagai langkah instrumen seperti menaikkan pajak ekspor. Untuk minyak goreng, pemerintah mengalokasikan dana Rp500milyar untuk menyubsidi 19,2 juta jiwa penduduk miskin di Indonesia. Pemerintah bekerjasama dengan produsen minyak goreng menjual minyak goreng Rp2500/kg. Harga tersebut lebih murah dari harga pasar yang kini dijual Rp12.500/kg. Kepada 115 perajin tahu tempe di Indonesia, pemerintah memberi subsidi Rp1000 untuk setiap kilo kedelai yang dibeli. Solusi jangka panjang yang pemerintah akan lakukan adalah meningkatkan produksi dalam negeri dan melancarkan distribusi berbagai komoditas supaya harga lebih terkontrol baik bagi petani maupun konsumen. </p>
<p>Pertanyaannya sampai kapan subsidi diberikan? Bagaimana meningkatkan produksi dalam negeri? Bagaimana meningkatkan nilai tambah hasil produksi dalam negeri? Bagaimana memampukan rakyat dalam beraktivitas membangun? Bagaimana meningkatkan kepedulian semua pihak utamanya yang sedang memiliki kekuatan kekuasaan dan pengambilan keputusan kepada rakyat yang masih lemah, unit-unit usaha yang masih lemah?</p>
<p>Pemerintah Indonesia bersama para pemangku kepentingan yang relevan, sekarang, harus memelopori upaya pencarian solusi, saat ini, yang berdampak jangka panjang dan antisipatif sehingga bertahap Indonesia dapat membangun ketahanan ekonomi dan ketahanan ekonomi rakyatnya. Cari titik terang di tengah krisis. ’Berkat’ krisis, Indonesia tidak terlena dalam kelimpahan sumberdaya. ’Berkat’ krisis, Indonesia menyadari betapa besar potensi kehidupan bangsa ini. ’Berkat’ krisis, Indonesia menjadi lebih kreatif dan mau membangun kewirausahaan dan daya inovasi. Kewirausahaan adalah kemampuan memanfaatkan peluang. </p>
<p>Pelaku inovasi adalah <em>entrepreneur</em> atau <em>intrapreneur</em>. Setiap anak bangsa berpeluang menjadi pelaku inovasi. Inovasi dapat terjadi di tingkat individu, organisasi, dan sosietas/negara. Inovasi yang berhasil membuahkan kinerja ekonomi dan kinerja sosial. Kewirausahaan dan inovasi yang terarah dapat menjadi motor pembangunan.</p>
<p>Data BPS dan Kementerian Negara Koperasi dan UMKM (2005) menunjukkan: ada 47 juta lebih unit usaha mikro, kecil dan menengah dengan serapan tenaga kerja 96% dari total penyerapan tenaga kerja. Peran UKM dalam penciptaan produk domestik bruto (PDB) nasional menurut harga berlaku hanya 53%. Hasil diskusi panel (<em>Kompas</em> 29/2/08) melaporkan: sektor UKM di Indonesia yang menjadi penopang ekonomi lebih dari 50% penduduk sedang di ambang kebangkrutan. Industri tempe hingga pengecoran baja tiarap! Usaha perdagangan di pasar tradisional hancur. Para pengusaha Ceper terpaksa harus membeli batu bara dari China yang berasal dari tambang-tambang Indonesia. Pengusaha kesulitan bahan bakar dan bahan baku.</p>
<p>Dalam menyikapi krisis dan permasalah ekonomi global yang berdampak pada perekonomian nasional dan perekonomian rakyat, intervensi kebijakan fiskal dan moneter saja tidak cukup. Kebijakan pemerintah harus memperhitungkan efek kini dan jangka panjang dan harus merembes ke dan dapat diserap oleh sektor riil. Pemerintah (misalnya dengan bermitra dengan perusahaan BUMN dan Swasta) dapat memelopori pengembangan kewirausahaan dan inovasi pada tingkat unit usaha (organisasi), komunitas masyarakat dan para pemimpin/pengelola unit-unit usaha khususnya skala mikro, kecil, dan menengah mengingat mereka paling merasakan dampak krisis. Mengapa? Kita dapat memperoleh banyak jawaban berdalih alih-alih jawaban proaktif bagaimana menutup kesenjangan ekonomi dan inovasi pembangunan ini.</p>
<blockquote><p>Entrepreneurship<br />
Innovation Capability</p></blockquote>
<p><strong>Kewirausahaan dan Daya Inovasi Indonesia</strong></p>
<p>Sudah cukup kuatkah pemicu bagi Indonesia untuk bangkit di tengah krisis, masuk dalam katarsis kreativitas, kewirausahaan dan inovasi pembangunan? Jenis pembangunan seperti apa yang Indonesia perlukan? Bagaimana bila para pemimpin melihat paradigma pembangunan Indonesia sebagai pembangunan yang manusiawi  (<em>people-centered development</em>) dengan keterarahan kepada Sang Maha Pencipta dan Maha Kuasa, yang ramah lingkungan (<em>eco-friendly development</em>) dan yang dikelola dalam dengan manajemen yang berkarakter (<em>good governance</em>)? </p>
<p>Bagaimana kalau kita melihat bahwa sekarang adalah saat tepat untuk Indonesia menemukan peluang pembangunan kreatif yang belum tersentuh kebijakan? </p>
<p>Melihat bahwa pembangunan adalah proses sosial yang mengandalkan pada kreativitas sosial; <em>none of us is as smart as all of us</em>, maka semua suara pemangku kepentingan (<em>stakeholders</em>) harus didengar. Pendekatan manajemen pengetahuan (<em>knowledge management</em>) relevan digunakan dalam konteks pembangunan karena semua hal, isu, pelaku ekonomi, dampak-dampak tindakan adalah interdependen, saling terkait dan tergantung. <em>All voices must be heard</em>. </p>
<p>Cara pandang ’krisis’ yang reaktif, protektif, persepsi parsial, keterisolasian, keraguan akan adanya titik terang, polarisasi dan konflik, ketakutan, kepanikan dan memori pengalaman ketakutan/traumatis bergeser/berubah ke cara pandang ’spiritus - <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Catharsis">katarsis</a>’ yang responsif-proaktif, eksploratif, persepsi holistik, kesatuan, kesadaran kolektif, <em>trust</em>, kelimpahan, optimis, semangat, bebas dan kreativitas, memori dan pengalaman kejayaan membawa hikmah bahwa kita pun bisa hidup (lebih) baik (berpengharapan).   </p>
<p><strong>Mari Indonesia bersiap menuju dan masuk dalam perekonomian kreatif.</strong> <strong>@F</strong></p>
<blockquote><p>Creative Economy<br />
Virtuous-Cycle Development</p></blockquote>
<p>Avanti Fontana<br />
<a href="http://www.certifiedcoach.org/" target="_blank"><img src="http://certifiedcoach.org/images/member2008.jpg" width="250" height="63" border="0"></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.avantifontana.com/blog/2008/05/03/in-a-quest-for-development-paradigms-in-indonesia-from-crisis-to-catharsis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
